Tampilkan postingan dengan label Analisa Teknikal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Analisa Teknikal. Tampilkan semua postingan
Selasa, 16 Februari 2016

Arti Overbought Dan Oversold Dalam Trading

0 komentar
Harga di pasar tidak selalu bergerak naik terus menerus atau turun terus menerus. Pada suatu level tertentu harga yang telah naik atau turun terlalu jauh akan mengalami retracement atau koreksi, sebelum meneruskan pergerakan arah trend atau berbalik arah. Harga yang naik dan mencapai level tertentu akan mengalami kondisi jenuh beli atau overbought, dan harga yang turun hingga level tertentu akan mengalami keadaan jenuh jual atau oversold.

Pada kondisi overbought atau oversold kemungkinan yang akan terjadi adalah koreksi, atau pembalikan arah gerak (reversal). Kedua kemungkinan tersebut bisa dikonfirmasi dengan indikator oscillator, yang populer adalah indikator Relative Strength Index (RSI). Jika terkonfirmasi dengan benar maka keadaan overbought ataupun oversold merupakan sebuah peluang trading yang bagus.

Overbought versus oversold
Keadaan overbought atau jenuh beli menunjukkan periode waktu dimana terjadi suatu pergerakan uptrend yang signifikan dan konsisten tanpa mengalami koreksi yang berarti. Pada chart trading keadaan ini tampak jelas ketika harga naik dari level yang paling rendah di sebelah kiri bawah chart ke level yang paling tinggi di sebelah kanan atas chart seperti pada contoh berikut:

Keadaan oversold atau jenuh jual menunjukkan periode waktu dimana terjadi suatu pergerakan downtrend yang signifikan dan konsisten tanpa mengalami koreksi yang berarti. Pada chart trading keadaan ini tampak ketika harga turun dari level yang paling tinggi di sebelah kiri atas chart ke level yang paling rendah di sebelah kanan bawah chart seperti berikut:


Karena harga tidak akan terus menerus naik atau turun, pada level tertentu akan berbalik arah. Level dimana harga kemungkinan besar akan berbalik arah tersebut adalah level-level overbought atau oversold. Sering kali harga bergerak sideways (ranging) pada level-level tersebut dalam waktu yang agak lama sebelum mulai berbalik arah. Kita akan melihat level overbought dan level oversold tersebut dengan bantuan indikator RSI serta kapan peluang trading yang paling tepat.

Melihat peluang trading dengan indikator RSI
Indikator yang populer untuk mengidentifikasi keadaan overbought dan oversold adalah RSI, biasanya dengan periode standard 14.  Aturannya sederhana, ketika RSI telah mencapai level 70 maka dianggap harga telah overbought dan kemungkinan besar akan terjadi koreksi ke arah bawah (downtrend), sementara ketika level RSI mencapai 30 harga dianggap telah oversold dan akan terjadi koreksi ke arah atas (uptrend).



Namun demikian kita mesti agak sabar untuk masuk karena sering kali indikator RSI telah menunjukkan keadaan overbought atau oversold tetapi harga masih naik atau turun dengan kencang. Agar aman, kita mesti menunggu saat garis RSI telah memotong garis level 70 dari atas ke bawah untuk kasus overbought seperti contoh berikut, atau memotong garis level 30 dari bawah ke atas untuk kasus oversold.


Pada contoh diatas entry sell dilakukan setelah RSI memotong level 70 dari atas ke bawah (area B), dan hindari untuk entry ketika keadaan overbought baru saja terjadi (area A).

Sumber : www.dailyfx.com : Overbought vs. Oversold and What This Means for Traders, by: Rob Pasche, Forex Trading Instructor
seputarforex.com 
Read more...

Mengidentifikasi Trend

0 komentar
Salah satu ketrampilan dasar bagi seorang forex trader adalah mengidentifikasi trend. Mungkin bagi anda yang sudah punya jam terbang yang tinggi sebagai trader, identifikasi trend tidak terlalu menjadi masalah. Tapi bagi trader pemula, bagaimana mengenal trend ini seringkali menjadi masalah krusial yang mau gak mau harus dihadapi.

Bagi trader pemula, trend memang seringkali menjadi hal yang membingungkan. Mungkin anda juga sering melihat (membaca) atau mendengar keluhan-keluhan (yang terkadang malah lucu-lucu sih) berkaitan dengan kebingungan mengenali trend ini. "Gimana sih. Di-buy malah turun, giliran di-sell malah  naik". Nah tuh, biasanya setelah kalimat itu, kemudian kalimat selanjutnya berisi aneka macam curahan kekesalan (yang biasanya tak lupa juga terselip berbagai koleksi kata-kata "indah").

Terus terang saya sering geli dengan ungkapan kekesalan semacam itu. Yah, setidaknya saya jadi teringat di masa lalu, saat trading tak pernah lepas dari yang namanya bingung plus (sedikit) panik. Hehehe... Ok, deh... Bagi anda para master, bahasan kali ini mungkin hanya sekedar mengenang masa lalu yang indah. Tapi bagi anda yang masih pemula, pemahaman tentang trend ini mutlak harus anda kuasai.

Mari kita mulai dengan jenis-jenis trend. Trend secara umum bisa dibedakan menjadi 3:
up trend (trend naik), down trend (trend turun), dan sideways
alias bolak-balik dalam range tertentu.

trend
Masalahnya, bagaimana kita menentukan trend yang sedang terjadi sekarang masuk jenis yang mana? Nah, kalau tentang hal ini, karena saya cenderung teknikalis, maka saya mengandalkan indikator dalam mengenali trend yang sekarang sedang terjadi. Bagi temen-temen trader yang lebih mengandalkan analisis fundamental, biasanya sih akan mengamati berita-berita yang berkaitan dengan matauang yang diperdagangkan, untuk kemudian mengambil kesimpulan bagaimana reaksi market tentang kondisi yang ada. Kali ini saya gak akan bahas lebih lanjut tentang masalah analisis fundamental ini. Biarlah temen-temen fundamentalist yang bahas aja yah.

Ok. Kita lanjut dengan masalah indikator tadi yah! Untuk mengenali trend, saya biasanya menggunakan indikator sederhana yang tersedia di semua trading platform: trend line dan moving average. Kedua indikator ini sangat sederhana, tetapi cukup bisa memberikan gambaran tentang trend yang sedang terjadi.

Pertanyaan selanjutnya biasanya adalah: gimana cara menarik trend line? Kalo jawaban saya sih: suka-suka kita ajah... hehehe! Eh, jangan sewot dulu dong! Menarik trend line ini memang bisa disesuaikan dengan selera kita kok. Mmm... kalo saya sih memang lebih sering narik trend line dari high ke high, dan dari low ke low di masing-masing wave. Tapi ada juga temen trader yang lebih suka bermain-main dengan channel, jadi ditariknya justru dari high ke low, dari low ke high. Terserah anda mau pilih cara yang mana, yang penting hasil tarikan trend line tersebut informatif bagi anda.

Bagaimana dengan moving average? Terus terang, inilah indikator yang pertama saya kenal. Hihihi... Maklumlah, di trading platform yang saya gunakan, indikator ini sudah terpasang secara default. Tapi bener kok, moving average ini indikator yang sederhana tetapi banyak gunanya loh...

Moving average, sesuai dengan namanya, menunjukkan rata-rata bergerak dari beberapa data terakhir sesuai dengan periodenya. Nah, pertanyaan selanjutnya biasanya adalah berapa periode moving average yang paling baik untuk digunakan? Seperti biasa, jawabannya adalah: terserah selera anda. Hihihi... eh, ampun boss! Lah memang periode moving average ini bisa dipilih sesuai selera kok. Kecuali, pertanyaannya, "Greenpips biasanya pake yang mana?" Nah, itu baru saya akan jawab: untuk identifikasi trend di chart daily, saya pakai moving average 50, 100, dan 200. Itu kalau memilih gaya trading swinger. Bagi anda yang lebih seneng scalping, tentunya anda perlu menyesuaikan time frame dan periode moving average yang akan anda gunakan.

Selain 2 indikator di atas, sebenernya ada banyak sekali indikator  yang bisa digunakan untuk mengidentifikasi trend. Ada temen trader yang menggunakan imajinasi, maksudnya garis imajiner yang cukup dibayangkan untuk mengetahui trend. Ada juga yang katanya cukup menggunakan tangan yang didekatkan ke monitor untuk membayangkan "garis" trend. Hihihi... ada-ada ajah memang. Tapi bukankah justru di situlah letak asyiknya trading yah? Trading is fun! So, enjoy your trade!

sumber: seputarforex.com 
Read more...

Pedoman Dasar "Membaca" Chart

0 komentar
Kemampuan membaca chart adalah kemampuan dasar seorang trader. Sangat jarang trader yang trading hanya dengan melihat deretan angka dalam bentuk tabel. Iya sih, karena pada dasarnya chart memang dibuat untuk mempermudah kita melihat pola pergerakan harga yang terjadi. Terus terang saya sendiri kurang suka (dan kurang bisa membayangkan naik-turunnya) kalo cuma liat angka bid/ask yang berubah-ubah tiap detik itu.

Jadi, membaca chart menurut saya adalah kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang trader. Ok, sebelum kita membahas tentang hal-hal yang perlu diperhatikan dalam membaca chart, perlu kita ulangi tentang dasar pemahaman pairs dalam forex trading. Dalam forex trading, mata uang diperdagangkan dalam pasangan (pair).

Misalnya EUR/USD dimana EURO di sini disebut sebagai base currency dan USD sebagai terms currency. Jika di chart diperlihatkan harga pair EUR/USD misalnya 1.2300, berarti 1 EURO adalah seharga 1.2300 USD. Sedangkan kuantitas yang anda perdagangkan menunjukkan jumlah base currency yang anda perdagangkan. Jadi misalnya anda buy EUR/USD sebanyak 100,000 quantity, artinya anda bertransaksi (membeli) 100,00 EUROs. Saya yakin anda sudah memahami dasar-dasar forex termasuk hal di atas.

Penjelasan di atas memang sekedar mengulang. Mohon maaf apabila anda jadi bosen. Bukan maksud hati loh. Just make sure aja bahwa anda bener-bener sudah paham akan hal sederhana ini. Hehehe! Ok deh, sekarang kita lanjutkan tentang bahasan mengenai bagaimana dasar-dasar cara membaca chart.

Ada beberapa hal yang perlu kita pahami dalam membaca chart:

Hal pertama, berhubungan dengan pemahaman akan trend. Begini, apabila anda melakukan open position Buy, berarti untuk mendapatkan profit dari transaksi tersebut anda mengharapkan chart untuk naik bukan? Dengan kata lain, trend yang bakalan menguntungkan bagi anda adalah up trend. Nah, mengharapkan terjadinya up trend di sini berarti anda mengharapkan nilai base currency menguat terhadap term currency. Jadi, apabila anda mengambil posisi Buy di pair EUR/USD, berarti anda menganggap (mengharapkan) EURO akan menguat terhadap USD. Apabila anda trading berdasarkan analisis fundamental, pastikan bagaimana pengaruh yang diharapkan dari news tersebut terhadap penguatan/pelemahan nilai mata uang yang bersangkutan dengan news tersebut sebelum mengambil posisi.

trend dan timeframe
Hal kedua, perhatikan time frame dari chart tersebut. Ingatlah, berbeda time frame bisa menimbulkan intepretasi yang berbeda terhadap pergerakan pair yang sama di waktu yang sama. Jadi, sesuaikan time frame chart anda dengan trading system yang anda pakai.

Hal ketiga, berkaitan dengan spread (perbedaan bid/offer). Sebagian besar chart memperlihatkan harga bid. Ingatlah bahwa ada perbedaan antara harga bid dan offer. Apabila anda melakukan transaksi Buy, berarti anda membeli dengan harga offer. Dan apabila anda menjual, anda akan dikenakan harga bid yang tentunya lebih rendah daripada harga offer. Hal ini berlaku juga pada saat anda menentukan nilai SL dan TP. Mm… btw, saya pernah melakukan kesalahan kecil yang lumayan memalukan berkaitan dengan perbedaan bid/offer ini. Gara-gara saya hanya melihat harga yang tercantum di chart, saya sempet kesel karena merasa harusnya posisi saya udah ter-closed karena di chart saya melihat TP sudah tersentuh. Terus terang saya "lupa" memperhitungkan spreadnya. Wah, malu banget deh!

Hal keempat, berkaitan dengan waktu (jam). Ini terutama apabila anda trading berdasarkan news. Pastikan anda menyesuaikan waktu yang tercantum di chart anda dengan waktu yang berlaku di mana anda berada. Biasanya jadwal news di dasarkan pada GMT. Nah, anda perlu menyesuaikan jadwal tersebut dengan waktu lokal anda. Ok deh… Hal-hal di atas adalah dasar-dasar yang perlu anda pahami dalam membaca chart. Tentu untuk selanjutnya anda bisa memasang indikator sesuai dengan selera anda untuk membantu mendapatkan informasi tambahan dari chart yang menari-nari di hadapan anda itu. Nah, selamat berkomunikasi dengan chart. Believe me, it’s fun! Eh, tapi jangan sampe lupa makan, tidur dan istirahat yaa…  Hehe!

sumber: seputarforex.com 
Read more...

Lagi Dan Lagi: Stop Loss

0 komentar
Kalau ada temen trader mengeluh, "Wadduuhh… MC (lagi) deh!". Tanggapan saya cuma satu, pasti gak pake SL (lagi) kan?" Halahh, kenapa gak kapok-kapok ya? Udah tahu kalau trading tanpa SL itu selalu berujung pada MC, kok ya masih ngeyel juga. Ampun deh!

Masalah SL ini memang selalu jadi masalah yang lumayan ribet, terutama bagi temen-temen trader yang relatif baru. Memang sih, trading tanpa SL "keliatannya" gak pernah salah posisi. Iya, memang gak pernah salah posisi kok, lah sekalinya kita mengakui salah posisi kan kalo account dah almarhum. Saya gak bosen-bosennya ngingetin untuk temen-temen trader baru, "Ayolah, selalu pasang SL!" Bukannya saya seneng kalo liat posisi mereka pada kesabet SL.
mc lagi dehh
Beneran, saya gak bosen ngingetin temen-temen untuk selalu memasang SL cuma karena satu alasan: just because I love you Guys! Hehehe.. Lebay yah? Tapi beneran kok, sejujurnya, saya suka sedih melihat temen-temen trader yang berguguran karena kapok kena MC. Gara-garanya? Sebagian besar ya itu tadi, trading gak pake SL. Ok deh, anggap aja kita dah kapok trading tanpa SL dan sudah sepakat untuk memasang SL.

Masalah berikutnya adalah: berapa sih SL yang tepat? Yuks mari kita cari formula yang tepat untuk menentukan SL ini. Kata beberapa mastah forex sih, ada beberapa patokan yang bisa kita pakai dalam menentukan SL. Mari kita coba simak satu per satu:

Menggunakan Patokan Parabolic SAR
Anda bisa menggunakan patokan titik parabolic SAR di awal trend untuk menetukan SL. Atau… ada juga saran untuk memasang SL 10 points di atas/di bawah price candle untuk posisi short/long. Jika anda merasa SL yang didapatkan dari cara ini terlalu jauh dari harga sekarang, berarti anda "terlambat" masuk ke market. Anda bisa gunakan alternatif cara yang lain.

Menggunakan Patokan High-Low Harian
Anda bisa menentukan SL dengan menggunakan nilai high-low sehari sebelumnya. Pasang SL di 10 points di atas high untuk posisi short dan 10 points di bawah low untuk posisi long.

Menggunakan Bollinger Bands
Anda juga bisa menggunakan Bollinger Bands sebagai dasar penentuan SL dengan patokan: pasang SL di 10 points di atas upper band untuk posisi short dan 10 points di bawah lower band untuk posisi long.

Menggunakan Dasar Elliot Wave Theory
Jika anda menggunakan Elliot Wave Theory untuk menganalisis market, maka:
  • Tempatkan SL 10 points di bawah titik terendah dari wave ke-2  di bullish trend jika anda mengambil posisi long di wave ke-3
  • Tempatkan SL 10 pips di bawah titik terendah dari wave ke- 4 jika anda mengambil posisi long di wave ke-5
  • Tempatkan SL tepat di atas/bawah titik puncak/dasar lembah dari wave sebelumnya ketika anda melakukan short/long berdasarkan pada A-B-C correctional waves.
Ok, cara-cara di atas mungkin bisa anda gunakan sebagai patokan-patokan dasar. Anda bisa memilih dan menyesuaikannya dengan trading system yang anda gunakan. Oya, perlu saya tambahkan, patokan manapun yang anda pilih… pastikan bahwa SL terletak pada nilai dimana "Anda sanggup kehilangan". Ingatlah… bagaimanapun, lebih baik kita loss 20 pips sebanyak 10 kali daripada sekali loss tapi borongan 500 pips, atau malahan MC. So? Lagi dan lagi: Jangan lupa pasang SL yah! Supaya anda gak cepet nyusul para "mantan" trader yang pensiun dini gara-gara kapok keseringan MC.

sumber: seputarforex.com 
Read more...

Divergence Trading

0 komentar
Di artikel sebelumnya, sekilas kita sudah menyinggung masalah divergence trading. Nah, kali ini mari kita bahas lebih detil tentang divergence trading ini. Apa sih sebenernya divergence trading?

Pada dasarnya, divergence trading adalah trading menggunakan patokan "perbedaan" antara pergerakan harga dengan pergerakan indicator oscillator. Anda bisa menggunakan MACD, RSI, stochastic dan yang sejenisnya.

Divergence trading sangat berguna bagi kita untuk bisa mengidentifikasi kapan saat sebuah trend akan berlangsung terus, atau kapan sebuah trend mulai melambat dan kecenderungan untuk berbalik arah. Kemampuan untuk mengidentifikasi apakah trend masih akan lanjut atau akan berbalik pastinya sangat kita perlukan. Lah, kita kan tentunya gak ingin "telat masuk" dalam mengikuti sebuah trend. Masih mending klo cuma telat masuk sih, lebih parah lagi klo sampai "salah masuk" yang buntutnya jadi sell di lembah atau buy di puncak.

Ok, sebelum menggunakan divergence dalam ber-trading, kita perlu memahami dulu teori dasar dalam divergence trading ini. Secara umum, divergence dapat dibedakan menjadi regular divergence dan hidden divergence.


Regular Divergence

Regular divergence secara umum menunjukkan tanda adanya indikasi pembalikan trend yang sedang berlangsung. Apabila harga dalam posisi lower-low sedangkan oscillator dalam posisi higher-low, menunjukkan indikasi adanya pembalikan trend (reversal) dari trend turun ke trend naik. Contohnya seperti gambar berikut:

 

Sedangkan jika harga mencapai kondisi higher-high sedangkan oscillator dalam posisi lower-high, kondisi ini menunjukkan indikasi adanya pembalikan trend (reversal) dari trend naik ke trend turun. Contohnya seperti gambar berikut:


Hidden Divergence

Hidden divergence secara umum menunjukkan indikasi penerusan trend yang sedang berjalan. Apabila harga dalam posisi higher-low, sedangkan oscillator dalam posisi lower-low, ini menunjukkan adanya indikasi trend naik akan terus berlanjut. Contoh seperti gambar berikut:



Sedangkan apabila harga dalam posisi lower-high sedangkan oscillator dalam posisi higher-high, ini menunjukkan adanya indikasi trend turun akan terus berlanjut. Contohnya seperti gambar berikut:



Nah, chart-chart di atas menunjukkan contoh-contoh divergence dengan berbagai variasinya. Ada baiknya kita bisa mengidentifikasi terjadinya divergence ini supaya kita bisa mengambil posisi yang tepat di setiap pergerakan harga.

Ngomong-ngomong masalah divergence, saya jadi teringat masa-masa awal belajar trading nih. Soalnya, pelajaran tentang divergence ini adalah pelajaran kedua setelah Fibonacci yang diajarkan oleh mentor saya, yang terus terang nih, bikin saya lumayan banyak panen omelan gara-gara susah ngeh-nya. Yah maklumlah, dasarnya emang lemot sih, hahaha.

sumber: seputarforex.com 
Read more...

Menentukan TP

0 komentar
Di artikel-artikel saya terdahulu, sudah sering saya bahas tentang Stop Loss (SL). Nah, sekarang giliran saya ingin bahas tentang sodara si SL, yaitu Target Profit (TP). Memang sih, menentukan TP mungkin tidak serumit menentukan SL. Lah, soalnya klo TP kan berhubungan dengan hal yang enak, profit alias keuntungan.

tp
Sedangkan SL, karena berhubungan dengan resiko kerugian, memang biasanya memerlukan pertimbangan yang lebih matang, terutama yang berhubungan dengan berapa kerugian yang sanggup kita tanggung. Nah, kalo sehubungan dengan berapa profit yang sanggup kita tanggung sih keknya gak terlalu ribet yaa, malahan ada temen trader yang punya prinsip: masi mendinglah profit 1 pips juga, dari pada loss.

Ok deh, meskipun profit berapapun gak masalah, bagaimanapun, bagi saya, menentukan TP juga memerlukan setidaknya patokan tersendiri. Sebenernya, secara teknikal, apa saja sih hal-hal yang bisa dijadikan patokan atau pertimbangan pada saat kita menentukan TP?


Mempertimbangkan TP Dan SL

Di sini saya akan coba kemukakan beberapa hal yang biasanya saya pakai untuk menentukan berapa TP yang saya pasang pada saat melakukan Open Position:
Level-level Fibonacci
Salah satu alternatif yang biasa saya pakai untuk menentukan TP adalah level-level Fibonacci retracement. Saya biasa menentukan TP di level fibonacci berikutnya dari posisi harga sekarang. Memang sih, saya menggunakan cara ini kalo sedang bermain longterm dengan margin yang tidak terlalu besar, biasanya sih hanya 5% per posisi. Time frame yang saya gunakan biasanya hourly atau 4H.

Nilai Support-Resistant

TP (dan juga SL) bisa juga ditetapkan berdasarkan nilai-nilai Support-Resistant. Bisa kita gunakan support-resistant harian, yang biasanya dihitung dengan pivot point. Atau, bisa juga dengan menggunakan pivot dengan patokan Fibonacci juga. Yah, kalo masalah ini sih, suka-suka kita deh.

High-Low Harian

TP (dan juga SL) bisa juga kita tetapkan berdasarkan nilai high-low harian. Mm… biasanya sih klo SL memang kita tarik pas di high (kalo kita posisi sell) atau pas di low (kalo posisi kita buy) harian. Tapi klo TP, saya biasa nariknya gak pas di high-lownya sih. Yah, sekedar buat jaga-jaga ajah, sapa tau memang gerakan pair gak nyampe high-low harian. Namanya juga TP, gak banyak-banyak juga ga papa, yang penting kecapai.

Patokan point tertentu

Selain menggunakan patokan-patokan di atas, ada juga trader yang menentukan TP-nya berdasarkan patokan point tertentu, misalnya 30 point per posisi. Biasanya mereka menentukan patokan point ini berdasarkan trading plan yang sudah ditetapkan sebelumnya, atau bisa juga berdasarkan kebiasaan ajah.
Ok, hal-hal yang saya kemukakan di atas adalah beberapa patokan yang bisa digunakan untuk menentukan TP.  Memang ada pula trader yang melakukan OP tanpa menentukan TP. Bahkan ada temen trader yang membiarkan saja satu posisi terfloating tanpa TP dan tanpa SL!
Tapi menurut saya sih, mending jangan dibiasain deh melakukan OP tanpa TP maupun SL seperti itu. Iya kalo "kebetulan" harga bergerak searah dengan posisi kita, nah klo gak? Wah, bisa-bisa ujung-ujungnya MC deh. Toh, kalo kita merasa rugi bakalan "ketinggalan" pergerakan harga, kita bisa memasang pending order buy stop atau sell stop dibeberapa pips diatas (untuk buy stop) atau di bawah (untuk sell stop) TP kita, jadi kalopun ternyata trend masih terus berlanjut, kita tetap akan mendapatkan profit dari posisi kita dan otomatis membuka posisi baru untuk mengikuti trend yang masih berjalan.

sumber: seputarforex.com 
Read more...

Naked Chart

0 komentar
Saya suka iseng nanya secara berkala ke sesama temen trader, "lagi pake indikator apa sekarang?" Nah, akhir-akhir ini, entah kompakan atau emang lagi musimnya, banyak yang menjawab dengan jawaban yang sama: "naked chart aja ko," Nah lo, saya jadi bertanya-tanya sendiri nih,"ke mana gerangan perginya indikator andalan ya?" Perasaan, setahun yang lalu, kalo saya menayakan pertanyaan yang sama, jawabannya bisa bervariasi banged tuh.

Masing-masing temen trader menyebutkan indikator andalannya. Ada yang pake moving average, fibonacci , MACD atau ichimoku atau malahan custom indicator hasil oprekan sendiri. Yah, sebenernya sih itu kembali ke selera masing-masing trader sih, mau pake indikator apapun juga atau mau pake candlestick doang, yang penting kita bisa mengambil informasi untuk dasar melakukan open position.

Banyak temen trader yang justru memilih kembali ke naked chart. Entah karena bosen liat indikator, atau mungkin karena sebel sering ketipu ama sinyal indikator. Tapi yang jelas sih, trading dengan naked chart tidak identik dengan nekad kok. Sebenernya, kalau kita mau mencermati candlestick, sudah cukup kok banyak informasi yang bisa kita peroleh. Tinggal mungkin kita tambah horizontal line untuk membantu kita melihat nilai pasti dari high-low atau TP dan SL kita, itu sudah cukup.

Saya sendiri terus terang sekarang lebih berpatokan pada candlestick. Kadang sih dibantu trend line, tapi lebih sering malah narik trend line-nya cuma dibayangkan doang. Paling-paling saya mencoba mengamati di 2 time frame untuk memastikan trend yang sedang terjadi. Biasanya sih saya mengamati di time frame 15 menit dan hourly.

Trading dengan naked chart memang perlu pengalaman dan ketelitian dalam mencermati pola-pola chart dan juga bentuk-bentuk candlestick yang terjadi. Tapi, tampilan trading platform kita jadi lebih "bersih". Kurang lebihnya, tampilan trading platform saya cuma seperti ini:



Bersih kan? Tinggal kita amati bentuk-bentuk candlestick yang ada, serta coba perhatikan apabila terbentuk pattern yang khusus. Untuk contoh di atas, saya amati pair EUR/USD dan GBP/USD, masing -masing dengan time frame 15 menit (chart yang kiri) dan juga hourly (chart di kanan). Paling-paling saya akan tarik horizontal line untuk menentukan TP atau SL-nya. Jadi, trading "tanpa indikator"? Why not ?

sumber: seputarforex.com
Read more...

Percaya Pada Indikator?

0 komentar
Do you believe in God? Do you believe in life after death? Itu pertanyaan standar untuk mengetahui tingkat keyakinan sseseorang terhadap hal-hal di luar nalar. Pertanyaan sederhana, tapi jawabannya tidak sederhana. Ada satu pertanyaan sejenis itu yang bisa ditanyakan kepada trader: "Do you believe in indicator?" Lebay deh yaa? Iya sih! Tapi pertanyaan ini seringkali saya ajukan kepada temen trader untuk mengetahui, apa dasar dia dalam mengambil keputusan dalam trading. Apakah dia sudah memiliki trading system yang matang, ataukah trading hanya sekedar berdasarkan feeling, atau barangkali dia trading berdasarkan untung-untungan doang?

what do you believe
Di saat-saat awal saya belajar trading, saya mati-matian belajar aneka macam indikator. Kalau di chat room ada yang ngomongin tentang salah satu indikator yang “kebetulan” saya belum paham, saya akan segera tancap gas untuk cepet mencari tau tentang indikator tersebut. Kalau perlu trading dihentikan dulu, diganti dengan browsing sana-sini untuk cari tahu tentang indikator tersebut. Pendeknya, gak tau indikator yang dibicarakan orang merupakan satu hal yang memalukan menurut saya (saat itu).
Lama kelamaan, kok saya cape sendiri ya? Soalnya ternyata, setelah lumayan paham beberapa indikatorpun, akhirnya yang dipakai saat trading sebenernya juga indikator itu-itu ajah kok. Malahan, terus terang, sekarang saya malahan cenderung mengandalkan candlestick plus chart pattern saat trading. Paling-paling dibantu dengan horizontal line. Jadi, apa pengetahuan dan kepercayaan terhadap indikator itu menjadi sia-sia? Kalau dibilang sia-sia sih tentu saja nggak-lah. Proses belajar dan memahami beberapa indikator menurut saya adalah salah satu tahapan dalam belajar menjadi trader yang baik.

Terus terang saya suka ragu kalau kalau ada trader yang mengatakan bahwa dia trading berdasarkan feeling. Saya biasanya akan melanjutkan dengan pertanyaan: “sudah berapa lama belajar trading?” Kalau dia jawab “lebih dari 5 tahun”, itu saya anggap end of discussion. Mungkin dia memang sudah sampai pada satu tahap dimana dia sudah bisa membaca dan mengikuti gerak market, bahkan tanpa indikator sekalipun.
Tapi kalau dia jawab “kurang dari setahun…” Wah, gawat tuh! Lah, kok kesannya trading itu cuma berdasarkan untung-untungan yaa…? Biasanya sih trader yang sejenis ini kalau saya liat gak akan bertahan lama. Begitu merasakan sekali atau dua kali MC, dia pasti akan kapok dan berhenti trading (plus rasa dendam terhadap segala yang berbau forex) Pemahaman tentang indikator menurut hemat saya masih sangat perlu bagi seorang trader, meskipun nantinya dalam prakteknya dia hanya mengandalkan candlestick saat trading. Lagian, candlestick juga kan salah satu indikator?

Buat temen-temen yang saat ini dalam proses belajar menjadi trader, kalau saya boleh unjuk saran, cobalah untuk belajar dan memahami setidaknya beberapa indikator. Pahami dan kenali, dan yang utama, coba amati dan teliti bagaimana hubungan indikator tersebut dengan gerakan chart. Temen trader ada yang bilang, dengan modal mengamati, meneliti dan hafal akan sifat-sifat suatu indikator, kita akan bisa mengetahui ke mana gerakan chart selanjutnya, bahkan nantinya tanpa bantuan indikator sekalipun.

Jadi, kalau saya ditanya: percaya gak sama indikator? Jawaban saya: tentu saja percaya. Hanya saja, masalah keputusan dalam trading, itu kembali ke judgement kita sendiri. Itu juga sebabnya saya lebih suka trading secara manual dibanding menggunakan EA. Bukankah keasyikan trading itu justru di prosesnya? Eh, tapi ngomong-ngomong, beberapa temen trader suka protes kalau saya bilang letak keasyikan trading itu ada di prosesnya. Mereka bilang trading itu asyiknya ya di WD-nya.

sumber: seputarforex.com 
Read more...

Memilih Indikator

0 komentar
Satu kesulitan yang biasanya dihadapi oleh trader baru setelah dia menyadari pentingnya analisis sebelum melakukan open position adalah: bagaimana memilih indikator yang paling tepat. Terus terang waktu pertama kali saya mencoba melakukan open position, saya sama sekali belum paham satu indikator pun. Alhasil, saya cuma bisa melihat dan megira-ngira gerakan chart, itupun chart yang saya amati berbentuk garis! Karena bagaimana memilih type chart-pun saya belum tau.

Baru setelah beberapa lama, saya menyadari bahwa cara open position yang asal tebak seperti itu sama sekali tidak bisa dipertanggungjawabkan hasilnya. Akhirnya, saya mulai terpacu untuk mencoba memahami indikator dan masing-masing fungsinya. Tapi ternyata kesadaran akan perlunya indikator ini justru awal dari masalah yang lain. Bukan apa-apa, saking banyaknya indikator yang tersedia dan coba saya pahami, akhirnya saya jadi bingung sendiri, indikator mana yang harus dipakai?

Hal pertama yang saya coba lakukan adalah bertanya kepada temen-temen trader senior, indikator apa yang biasa mereka pakai. Tapi ternyata ini juga tidak menyelesaikan masalah, karena, masing-masing trader ternyata mempunyai indikator andalan yang berbeda-beda. Nah lo, makin bingunglah saya. Sebenernya, indikator apa sih yang paling baik? Mungkin saat ini ada diantara anda yang sedang mengalami kesulitan sama seperti saya waktu itu.

Ok, saya hanya sekedar ingin memberikan saran, barangkali bisa anda jadikan titik tolak dalam memilih indikator yang akan anda gunakan untuk melakukan analisis. Hal pertama yang perlu anda pahami adalah: setiap indikator itu punya keunggulan dan kelemahan masing-masing. Kalau anda cukup telaten dan cukup punya banyak waktu, anda bisa telaah sendiri masing-masing keunggulan dan kelemahan dari indikator-indikator tersebut.

Tapi bagi anda yang kurang telaten, saya sarankan untuk cukup memilih 3 indikator yang masing-masing menggambarkan: trend, momentum dan support-resistant. Untuk indikator yang menggambarkan trend, anda bisa pilih salah satu dari beberapa indikator seperti: Moving Average dengan beberapa variannya, trend line atau Parabolic SAR. Untuk menggambarkan momentum, silahkan pilih satu diantara indikator seperti: MACD, RSI, ADX, W%R. Sedangkan untuk patokan support-resistant, anda bisa menggunakan perhitungan pivot point, atau juga fibonacci retracement.
Ramuan dari ketiga indikator tadi setidaknya bisa dijadikan pedoman untuk mendapatkan gambaran tentang arah pergerakan chart, kekuatan dari sebuah trend dan tingkat harga yang bisa menjadi batasan-batasan pergerakan chart. Gabungan dari ketiga indikator tersebut akan kurang lebih nampak sebagai berikut:


Pada chart di atas, saya menggunakan parabolic SAR sebagai indikator yang menggambarkan arah/trend, MACD untuk menggambarkan momentum atau kekuatan trend serta fibonaci retracement untuk patokan support-resistant. Bagi anda yang kurang telaten untuk meramu indikator sendiri, bisa coba indikator yang sudah berbentuk “ramuan”, seperti misalnya ichimoku atau custom indicator lainnya.

Apa yang saya kemukakan di atas hanya sekedar saran. Anda bebas memilih indikator yang meurut anda paling mudah dipahami. Mentor saya bilang: semua indikator pada hakekatnya sama baiknya, yang penting adalah bagaimana kita memahami indikator tersebut. Memahami indikator memang memerlukan ketelatenan tersendiri. Tapi selama kita enjoy dalam melakukannya, semua akan terasa asyiknya kok. Jadi, jadikanlah trading sebagai sesuatu yang dinikmati. Jangan dibikin stress deh… Bukankah asyiknya trading itu justru di utak-atiknya itu.

sumber: seputarforex.com 
Read more...

Chart Pattern: Triangles

0 komentar
Mari kita lanjutkan bahasan tentang chart pattern. Pada artikel terdahulu, kita sudah membahas tentang salah satu jenis chart pattern, yaitu head & shoulder. Kali ini marilah kita bahas jenis chart pattern yang lain, yaitu triangles (segitiga). Pada dasarnya ada 3 jenis Triangle Chart Pattern yag akan dijabarkan di bawah ini.

Symmetrical Triangle (Segitiga Simetris)
Chart Pattern Segitiga Simetris terbentuk apabila slope high to high dan slope low to low saling mendekat dan bertemu di satu titik membentuk segitiga. Chart Pattern ini terbentuk karena high tercapai semakin rendah dibanding dengan high sebelumnya dan low tercapai semakin tinggi dibanding low sebelumnya. Hal ini berarti baik buyer maupun seller saling menekan harga. Ini merupakan sebuah bentuk konsolidasi. Apa yang akan terjadi kemudian?

Apabila slope high to high dan low to low tersebut bertemu, maka break out akan terjadi. Kita memang tidak bisa memperkirakan pihak mana yang akan menang, apakah buyer atau seller, yang pasti, kita tahu bahwa market segera “pecah” dan harga akan bergerak secara ekstrem, bisa ke atas maupun ke bawah. Nah, bagaimana kita dapat mengambil keuntungan dari keadaan ini? Sederhana saja sih… prinsipnya hampir sama dengan kalau kita menghadapi market yang biasanya bergejolak menjelang dan sesudah news besar. Kita tempatkan pending order  buy stop di atas slope lower high dan sell limit di bawah slope higher low. Apabila salah satu pending order tersebut telah tersentuh, batalkan pending order yang lain.


Pada contoh gambar diatas, kita menempatkan pending order di atas slope lower high, dan mengikuti kenaikan harga yang terjadi.

Ascending Triangle
Jenis chart pattern ini akan terbentuk apabila ada resistant level yang untuk sementara sulit tertembus dan slope pada higher low.  Apabila terjadi pola chart seperti ini berarti buyer mulai mengumpulkan kekuatan untuk menembus resistant tersebut.


Descending Triangle
Jenis pola ini adalah kebalikan dari ascending triangle, dimana ada level support  yang untuk sementara berusaha ditembus dan slope pada lower high, yang artinya seller mulai mengumpulkan kekuatan untuk menembus level support yang ada.


Pertanyaannya adalah: apa yang kemudian akan terjadi dan bagaimana kita sebaiknya mensikapi kondisi ini? Kalau menurut teori, semua bisa terjadi. Bisa saja pada kasus ascending triangle buyer memenangkan pertempuran dan harga akhirnya menembus level resistant. Akan tetapi bisa jadi kemungkinan yang terjadi sebaliknya. Harga akan jatuh karena buyer kemudian menyerah pada level resistant yang terlalu kuat. Demikian juga pada kasus descending triangle. Bisa saja seller akhirnya memenangkan pertempuran dan menembus level support. Akan tetapi bisa saja sebaliknya yang terjadi. Harga justru akan naik karena seller kemudian menyerah pada level support yang terlalu kuat.
Nah lo, anda mungkin jadi bertanya-tanya: “Lah, trus gimana dunk?” Sebenernya sih kita tidak terlalu peduli dengan siapakah yang akan menang dalam pertempuran ini, yang penting kita bisa mengambi keuntungan dari pergerakan chart yang kemudian terjadi. Jadi tempatkan saja pending order buy stop dan sell stop. Kemudian lihat, mana yang akan tersentuh dan nikmati keasyikan menaiki gelombang besar yang terjadi.



Tautan:
Chart Pattern: Head And Shoulders

sumber: seputarforex.com 
Read more...
Senin, 15 Februari 2016

Chart Pattern: Head And Shoulder

0 komentar
Mari kita belajar chart pattern. Anda mungkin sekarang sudah banyak memahami indikator dan bahkan mungkin sudah punya indikator pair andalan sendiri. Ok, that’s great. Tapi masih banyak hal lain yang perlu kita ketahui untuk memahami pergerakan chart sehingga kita bisa berselancar dengan nyaman di gelombang pergerakan chart. Salah satunya adalah mengenali dan memahami chart pattern. Ok deh. Marilah kita belajar tentang pola-pola yang biasa terjadi pada chart atau chart pattern. Mungkin anda bertanya-tanya, apa perlunya memahami chart pattern ini?

Chart pattern berfungsi untuk mengidentifikasi pola yang terbentuk pada chart, dimana apabila pola tersebut terbentuk, kecenderungan akan terjadi gerakan yang ekstrem pada chart. Siapa sih yang gak pengen mengambil keuntungan dari pergerakan yang ekstrem? Hmmm.. pasti semua pengenlah. Siapa sih yang pengen “salah posisi” saat terjadi gerakan ekstrem tersebut? Wuikss, yang ini sih kagaklah.

Nah, memahami chart pattern akan membantu kita untuk bersiap-siap menghadapi gerakan ekstrem tersebut, memanfaatkan dan mengambil keuntungan dari gerakan tersebut serta menghindari melakukan open di posisi yang “salah”. Yah, namanya juga gerakan ekstrem, kalau kita pas dalam meresponnya, keuntungan besar akan bisa kita dapat. Sebaliknya, kalau kita “salah” dalam meresponnya, ya… siap-siap aja kesabet SL atau bahkan mungkin dijemput ama si MC.

Ada banyak chart pattern yang dikenal, salah satunya adalah double bottom/up. Saya akan mencoba menambahkan pengertian untuk pola yang lain, yaitu head and shoulder pattern. Head and shoulder pattern adalah pola chart reversal, artinya, apabila pola ini terbentuk kecenderungan akan disertai dengan reversal besar-besaran. Polanya secara umum terlihat seperti berikut:


Ok. Dapatkah anda melihat gambaran “kepala dan bahu” pada pola tersebut? “Kepala” adalah titik tertinggi (higest-high), yang diapit oleh “bahu” yang merupakan dua titik tertinggi sejajar di bawah kepala. Dalam pola seperti itu, kita bisa melakukan open position di bawah “leher”. Kita juga bisa menentukan target sejauh “leher” tersebut dengan mengukur jarak antara “kepala” dan “bahu”. Kecenderungan harga merosot jauh setelah pola ini terbentuk. Seperti halnya pola double top dan double bottom yang berkebalikan, pada pola head and shoulder ini juga berlaku kebalikan. Kurang lebihnya gambarannya sebagai berikut:


Pola kebalikan dari head and shoulder (inverse head and shoulder) ini dibentuk dari sebuah titik terendah (lowest-low) yang diapit oleh dua titik terendah lain (yang tidak serendah kepala) sebagai “bahu”nya. Harga kecenderungan akan naik tajam setelah pola ini terbentuk. Nah, dengan berbekal pada chart pattern ini, anda akan bisa mengantisipasi gerakan chart tersebut dan tentu saja mengambil keuntungan darinya.

Mmm… mungkin bahkan anda berpikir, target yang kita tetapkan masih kurang jauh? Hehehe… sah-sah saja sih kalau masih mau memanfaatkan gerakan yang terjadi. Boleh aja kalau anda masih mau menambah target pips, tapi saran saya, amankan dulu profit yang telah kita dapatkan. Tentunya juga kita masih harus berpegang pada prinsip dasar dalam trading: jangan serakah. Jadi, ambil dan nikmati secukupnya. Masih ada beberapa pola yang lain yang mungkin perlu  juga kita ketahui. Nanti deh kita akan bicarakan pada artikel selanjutnya.


Tautan:
Chart Pattern: Triangles
seputarforex.com 
Read more...

Full Indicator vs Naked Chart

0 komentar
Banyak temen trader, terutama yang baru belajar trading menanyakan: “indikator apa sih yang paling bagus?” Saya selalu menjawab pertanyaan seperti ini dengan jawaban standar: “semua indikator bagus kok, tergantung pemahaman kita terhadap indikator tersebut.” Terus-terang, itu jawaban yang paling “aman” daripada saya kemudian harus menerangkan satu atau bahkan beberapa indikator dari pengertian, cara bacanya, kelebihan dan kekurangan sampai ke pamahaman. Lah… ntar saya gak jadi trading dong.

full indikator vs naked chart
Tapi bukan berarti jawaban itu saya berikan karena semata-mata males nerangin loh. Sebenernya kalau dilihat filosofinya ya memang seperti itu adanya. Indikator kan ada banyak sekali. Masing-masing dengan kelebihan dan kekurangannya. Tinggal kita aja yang pilih, mau pake yang mana. Atau kalau belom terpuaskan dengan indikator yang ada, ya bikin custom indicator sendiri aja. Memahami indikator itu mirip seperti memahami pasangan kita. Kita harus paham watak dasar dari indikator tersebut. Kita juga harus tau, kapan dia ngambek alias ngasih false signal dan juga mesti tau bagaimana cara ngerayunya atau mensikapinya. Sebaliknya, kita juga mesti tanggap, kalau pas dia lagi tersenyum alias ngasih sinyal yang terang benderang. Gak usah ragu deh, langsung hantam aja.

Ok deh, setelah paham satu indikator, biasanya kita akan terpacu untuk memahami indikator lain. Mulai deh, muncul masalah baru. Banyak temen trader yang malahan mengeluh setelah tahu banyak indikator; “makin banyak tau kok jadi makin ragu yaa?” Banyak yang malahan merasa, trading jadi terasa ruwet setelah “agak” paham tentang indikator. Sempet terlintas di benak saya setelah rada ngerti tentang beberapa indikator; “wew… kok malah jadi bikin ragu untuk open nih? Mendingan dulu, waktu belom pake indi, OP hanya menurut feeling aja… malahan lebih mantaps tuh" Nah, jadi gimana tuh? Perlu gak sih kita paham banyak indikator?

Trus juga, idealnya, ada berapa indikator yang kita pasang di satu chart? Wah, kalo ditodong seperti itu, paling-paling saya juga menjawab dengan jawaban”aman” lagi: secukupnya. Biasanya sih saya pake satu indikator untuk ngeliat trend, satu indikator untuk ngeliat momentum, dan satu indikator untuk ngeliat batasan support-resistance.” Paling-paling setelah itu, pertanyaan berlanjut dengan: “coba liat chart-nya dong, indi apa yang biasanya dipake?”

Mmm... ya udah, saya jawab apa adanya aja. Saya biasanya pake indi dengan settingan begini begitu… atau.. kalo lagi males ya cukup naked chart aja. Nah kan, akhirnya keluar juga deh, bahwa ternyata indikator bagaimanapun juga cuma alat bantu. Keputusan tetap sepenuhnya ada di tangan kita. Indikator cuma berperan meningkatkan keyakinan kita terhadap tingkat keberhasilan keputusan kita.

Jadi suka-suka kita aja, mau pake indikator bertumpuk-tumpuk di chart kita, atau cukup pake naked chart, alias candlestick doang. Asalkan kita bisa yakin dalam mengambil keputusan, itu semua terserah kita. Itulah enaknya trading. Gak ada keharusan apapun, termasuk keharusan dalam memilih dan memakai indikator. Kalau kata salah seorang mentor saya; “suka-suka kita lah”. Jadi, gak usahlah  kelamaan bingung pilah-pilih indikator… pilihlah yang paling mudah dipahami, atau pakai saja naked chart.

sumber: seputarforex.com 
Read more...

Mari Bermain Dengan Trend Line

0 komentar

Kali ini yuk kita bermain-main dengan trend line. Trend line ini indikator yang menurut saya lumayan menarik untuk diutak-atik, karena kita bebas menarik trend line sesuai dengan selera. Bagaimana patokan kita menarik trend line? Trend line bisa ditarik dari high ke high dan low ke low. Kira-kira hasilnya seperti yang terlihat pada chart berikut: 


Lalu, informasi apa yang bisa kita dapat dari tarikan trend line tersebut? Mmm… mari kita amati lebih cermat. Chart di atas memotret kondisi ketika trend line yang saya tarik pada chart GBP/USD time frame hourly menjadi semacam pembatas pergerakan harga. Fungsinya kira-kira sama dengan batasan resistant.  Harga 1.4836 pada chart di atas menjadi semacam resistant bagi pergerakan GBP/USD.

Apabila bisa tembus, kecenderungan akan terus naik, tapi apabila gagal, dia akan turun untuk kemudian mencoba lagi di lain waktu. Trend line juga bisa kita tarik sedemikian rupa sehingga membentuk channel, seperti hasil tarikan salah seorang mentor saya berikut:

   

Nah, gimana? Asyik kan bermain-main dengan trend line dan channel? Memang sih... perlu sedikit ketelatenan untuk menarik-narik trend line ini. Tapi dari indikator yang sederhana ini, ternyata bisa juga kita peroleh banyak informasi yang menarik. Dan, dari tarikan trend line, pola yang kita dapat kadang-kadang membuat saya makin jatuh cinta dengan chart di depan saya. Gimana nggak? Pergerakan chart yang sekilas terlihat acak, apabila kita amati lebih cermat, ternyata membentuk pola yang cukup konsisten.

Itulah sebabnya saya sering iseng menarik-narik trend line ini… sekedar tarik sana tarik sini… hasilnya? Kita bisa tau perilaku dan apa yang sedang dilakukan oleh satu pair. Misalnya:  “owh… ternyata si GU sedang mencoba break high nih… hmmm coba diamati deh, berhasil ato gak dia. Kira-kira begitulah. Trading memang kegiatan yang mengasyikan.

sumber: seputarforex.com 
Read more...

Menggunakan Fibonacci Retracement Untuk Memprediksi Batas Harga

0 komentar

Yuk mari kita bermain-main dengan Fibonacci Retracement. Indikator yang satu ini adalah indikator favorit saya. Dasar fibonacci sendiri menurut saya sangat menarik. Deret Fibonacci adalah deret yang sangat cantik. Semakin kita utak-utik, semakin banyak keunikan yang ditemukan dari deret yang kelihatannya sederhana ini. Boleh dibilang, Fibonacci Retracement adalah cinta pertama saya dari semua indikator yang saya kenal. Kok jadi lebay gini yach?

Ok deh, mari kita lihat aja bagaimana menggunakan Fibonacci Retracement untuk menganalisis pergerakan harga. Sesuai dengan filosofi dasar dari Fibonacci itu sendiri, kita mencoba mengamati pola dari sesuatu yang terlihat acak, dalam hal ini pergerakan harga sebuah pair. Dalam sesuatu yang terlihat acak, ternyata kita bisa menemukan pola-pola tertentu yang ternyata "dipatuhi" secara alamiah oleh segala sesuatu di alam ini. Hmm, klo kita bahas tentang bagaimana amazing-nya deret Fibonacci, mungkin bisa satu buku atau satu film sendiri deh. Iya sudahlah, saya tidak akan membahas secara detil tentang deret Fibonaccidan segala misteri yang ada di dalamnya. Kalau anda tertarik mengenal deret ini, silahkan search aja di mesin pencari.

Kita langsung bahas bagaimana penggunaan deret ini di chart ajah. Langkah pertama untuk menggunakan Fibonacci Retracement adalah, kita harus mengindentifikasi swing atau wave yang terjadi. Itulah mengapa, Fibonacci sering dikaitkan dengan teori-teori wave lainnya seperti Elliot Wave. Sementara kita tunda dulu bahasan tentang Elliot Wave. Kita Fokus dulu pada bagaimana menarik Fibonacci Retracemet di chart kita. Ok, kita lanjut. Setelah kita tahu Swing High-Low, kita tarik Fibonacci Retracement. Sesuaikan level 0 dan 100 pada Fibonacci dengan high-low yang sudah teridentifikasi. Untuk lebih jelasnya, mari kita amati chart berikut:

 

Pada chart di atas, saya memasang indikator Parabolic SAR, ADX dan MACD serta menarik Fibonacci Retracement di swing yang teridentifikasi. High di 1.5476 dan Low di 1.5126. Fibonacci Retracement saya tarik dengan 0 di lowdan 100 di high. Nah, sekarang mari kita perhatikan bagaimana pergerakan harga mematuhi pola yang dibentuk oleh leve-level Fibonacci Retracement tersebut. Lihatlah bagaimana harga mencoba menembus masing-masing level tersebut. Perhatikan bagaimana usaha harga menembus level harga 1.5208 dan 1.5260 dan 1.5343. Harga berkali-kali menyentus batas-batas tersebut dalam rangka mencoba menembusnya. Setelah tertembus, harga akan melaju ke level berikutnya.

Dengan memahami perilaku tersebut, kita bisa menggunakan harga di level-level Fibonacci ini sebagai target profit kita, seperti contoh posisi yang saya ambil dimana saya menggunakan patokan level fibo 61.8 di harga 1.5343 sebagai target profit. Posisi yang saya ambil itu hanya sebagai contoh. Kebetulan TP yang saya ambil cuma sekitar 20 pips sih. Pada dasarnya, kita bisa menggunakan Fibonacci Retracement di semua time frame. Tapi, disarankan digunakan untuk time frame hourly ke atas. Bukan apa-apa sih, lah, klo kita pake time frame 5 menit dan setiap kali wave terbentuk trus kita narik fibo lagi, trus kapan tradingnya doong?

Oya, kita juga bisa menggunakan Fibonacci Retracement sebagai patokan menentukan support dan resistant pengganti pivot point. Nanti deh, kita akan bahas bagaimana menggunakan Fibonacci Retracement sebagai pivot di artikel yang akan datang.

sumber: seputarforex.com 
Read more...

Menggunakan Moving Average Sebagai Dasar Menentukan Open Position

0 komentar
Kali ini kita akan bahas mengenai bagaimana menggunakan Moving Average sebagai dasar untuk menentukan kapan kita sebaiknya masuk (open position) dan juga kapan kita sebaiknya keluar pasar (close position).

Mengapa Moving Average? Yah, sebenarnya banyak sekali sih, dasar analisis yang bisa kita pakai untuk pedoman dalam bertrading. Moving Average hanya salah satu dari banyak sekali indikator yang biasa digunakan dalam analisis teknikal forex. Penggunaan atau bagaimana kita menterjemahkan Moving Average-pun bisa jadi berbeda-beda antara satu trader dengan trader yang lain. Apa yang akan saya sampaikan ini hanyalah salah satu teknik memanfaatkan informasi yang kita dapat dari Moving Average.

Ok. Pertama,  kita sebaiknya paham dulu apa dan bagaimana Moving Average itu. Apa sih Moving Average? Mmm, saya rasa, saya gak perlu deh kasih rumus-rumus di sini. Dari pada belum apa-apa sudah bikin pusing. Yang jelas perlu dipahami adalah: Moving Average ini menghitung nilai rata-rata bergerak dari sejumlah data tertentu. Metoda menghitung nilai rata-rata bergerak ini pun bermacam-macam cara dan formula nya sehingga kita mengenal ada metoda Simple Moving Average, Exponential Moving Average, Linear Weighted Moving Average dan sebagainya. Supaya lebih sederhana, dalam bahasan kita ini, kita hanya menggunakan metode Simple Moving Average (SMA).

Sekarang, kita akan memilih periode yang kita gunakan. Pada dasarnya, kita bebas aja sih, menentukan periode berapapun yang kita gunakan. Dalam contoh analisis berikut, saya akan menggunakan chart dengan time frame (pengelompokan data) per jam (hourly) dan periode Moving Average yang saya pakai adalah 4 dan 8. Mari kita amati chart berikut:

 

Chart di atas adalah chart untuk pair GBP/USD dengan time frame hourly. Saya memasang 2 SMA: SMA 4 saya beri warna merah, sedangkan SMA 8 saya beri warna biru. Sekarang, perhatikan saat kedua SMA tersebut berpotongan. Apabila SMA 4 memotong SMA 8 dari bawah ke atas, seperti nampak pada titik 1, berarti nilai rata-rata 4 jam terakhir lebih besar dari pada nilai rata-rata 8 jam terakhir. Dengan kata lain, trend dalam 4 jam cenderung naik. Dalam kondisi seperti itu, sebaiknya kita melakukan open position: Buy pada titik tersebut (harga ditunjukkan dengan horizontal line sebesar 1.5619).

Pada saat SMA 4 memotong SMA 8 dari arah atas ke bawah, seperti nampak pada titik 2, berarti nilai rata-rata 4 jam terakhir lebih kecil dari nilai rata-rata 8 jam terakhir. Dengan kata lain, trend dalam 4 jam terakhir cenderung turun. Dalam kondisi seperti ini, sebaiknya kita close position Buy kita atau bisa juga kita open position: Sell (harga ditunjukkan dengan horizontal line sebesar 1.5690). Posisi Sell bisa kita close saat SMA 4 kembali memotong SMA 3 dari bawah ke atas, seperti nampak pada titik 3. Atau, kita bisa kembali melakukan Open Position: Buy pada titik tersebut (harga ditunjukkan dengan horizontal line sebesar 1.5633). Anda bisa mencoba sendiri pasangan SMA maupun time frame yang lebih sesuai dengan selera. Ada baiknya kita coba dan amati dahulu, untuk menemukan Moving Average yang akan kita jadikan patokan.

Memanfaatkan perpotongan antara 2 Moving Average seperti  yang telah kita bicarakan di atas hanyalah salah satu contoh penggunaan Moving Average. Banyak juga temen-temen trader yang menggunakan informasi dari Moving Average dengan cara yang berbeda. Semua tergantung cara kita mengintepretasikan dan memanfaatkan informasi yang kita dapat dari setiap indikator.


sumber: seputarforex.com
Read more...

Stop Loss: Membatasi Kerugian, Bukan Mempercepat Kerugian

0 komentar
Saya sengaja memilih topik tentang Stop Loss, karena banyak temen-temen trader, terutama trader pemula (newbie) yang “kapok” menggunakan fasilitas Stop Loss. Kebanyakan menganggap bahwa Stop Loss itu “mempercepat” kerugian dan menganggapnya sebagai biang keladi atas hasil negatif dari open position yang diambil sehingga modal tergerus sedikit demi sedikit. Dengan alasan itulah, banyak yang akhirnya nekad bertrading tanpa Stop Loss. 

stop loss membatasi kerugian
Saya bilang "nekad" karena Stop Loss ini sebenarnya berfungsi seperti halnya rem bagi yang belajar naik sepeda. Bayangkan kalau orang belajar naik sepeda tanpa rem, ya babak belurlah jadinya. Trading tanpa Stop Loss memang sekilas terlihat menggoda, karena kita merasa tidak pernah “salah posisi”. Memang secara umum harga biasanya bergerak naik-turun pada range tertentu, jadi  ada kalanya memang setelah floating minus akhirnya kita dapet profit juga.  Pada akhirnya banyak temen-temen newbie yang berpikir: weh, berarti aman doong. Biarin aja posisi terfloating, ntar juga akhirnya profit juga. Eits, tunggu dulu, ada saat tertentu ketika harga kembali pada posisi semula setelah goyang cukup jauh.

Memangnya mau, untuk mendapatkan plus 5 pips, sebelumnya floating minus 300 pips dulu? Itu juga kalau masih ada “nasib baik” bisa jadi malah lebih duluan Margin Call yang datang daripada profit. Stop Loss itu dimaksudkan untuk melindungi kita dari kerugian yang terlalu besar. Jangan sampai kita mengalami "cuma sekali salah posisi". Lah, kok “cuma sekali salah posisi”? Iya, maksudnya cuma sekali salah posisi trus langsung kena Margin Call, alias abis modal, trus abis itu kapok dan pensiun jadi trader. Ok deh, anggap  kita sudah sepakat bahwa Stop Loss itu memang perlu. 

Sekarang  masalahnya, berapa sih Stop Loss yang tepat? Wah, kalau untuk menentukan berapa pointyang tepat, terus terang saya nggak sanggup. Saya cuma bisa menyarankan untuk coba memperhatikan hal-hal berikut:
  • Cobalah liat range pergerakan  harian dari pair yang kita ambil.  Masing-masing pair punya sifat berbeda. Misalnya: kalau untuk EUR/USD, mungkin SL 30 point sudah cukup, tapi kalau untuk GBP/JPY?  weh, sebentar juga dah kesabet tuh
  • Alternatif lain, kita bisa memanfaatkan titik parabolic SAR di awal trend sebagai patokan penentuan Stop Loss
  • Atau,  kita bisa memakai level-level pada Fibonacci Retracement sebagai patokan penentuan TP maupun SL
  • Satu hal yang pasti, tetapkan SL sebesar berapa dollar "yang sanggup kita relakan" apabila kita salah posisi
Apa yang saya sarankan di atas itu cuma contoh. Masing-masing trader berhak mementukan “nasib”nya sendiri. Semuanya tergantung dari trading plan dan indikator yang digunakan masing-masing trader.

Oya, ada satu hal lagi yang perlu dipahami sehubungan dengan Stop Loss. Besaran range SL akan berpengaruh pada derajat keyakinan kita akan keberhasilan pencapaian TP. Maksudnya? Begini... saya langsung kasih contoh ya. Misal hasil analisis kita menyatakan GBP/JPY akan naik sebanyak 50 point. Ok, kita tetapkan TP sebesar 50 point. Terus, bagaimana dengan SLnya? Apabila kita menentukan SL sebesar 30 point, maka derajat keyakinan kita akan tercapainya TP cuma sekitar misal 40%, alias nggak terlalu yakin TP bakal tercapai.

Nah, kalau SL kita tambah menjadi sebesar 50 point, derajat keyakinan naik menjadi misal 50% atau fifty-fifty lah antara TP atau SL yang kesentuh duluan. Nah,  kalau SL kita ditambah lagi, menjadi misalnya 150 point, maka derajat keyakinan kita naik lagi menjadi 100% atau kita yakin 100% bahwa TP akan tercapai karena SLnya cukup jauh untuk kesentuh duluan. Jadi semakin lebar range SL, semakin tinggi derajat keyakinan kita bahwa TP akan tercapai.

Itulah mengapa, banyak trader terpancing untuk melakukan Open Position tanpa SL . Ya iyalah, "pasti" tercapai  TP, lah floating negatif sampai ratusan pips juga “dipelihara” dengan TP cuma 5 pips. Satu-satunya batasan floating negatif ya cuma available margin. Saya sering bercanda dengan menjuluki trader semacam ini sebagai trader penganut keyakinan Stop Loss = Margin Call. Yah, sebenarnya ini hak masing-masing trader sih, cuma, terus terang, saya sedih melihat banyak temen-temen trader yang berguguran karena kena MC gara-gara trading tanpa SL ini.

Saran saya, lebih baik kita segera tahu bahwa kita salah posisi dan cepet-cepet memperbaikinya. Biasanya, kalau sudah terlanjur terfloating minus banyak pips, kita cenderung tidak tega untuk melakukan Cut Loss. Malahan pasrah nunggu datangnya Margin Call sambil berharap-harap cemas harga berbalik arah. Yakin deh, yang kayak gini nggak enak banget loh.

sumber: seputarforex.com 
Read more...

Panduan Menggunakan Kagi Chart Untuk Trader Berpengalaman

0 komentar
Kagi chart, berdasarkan pada konsep penyingkiran noise, adalah salah satu tool paling signifikan bagi seorang trader forex aktif. Kagi chart disebut-sebut sebagai aktor dibalik keberhasilan menghindar dari false signal dan juga mengapa trader bisa memprediksi aksi pasar secara lebih efektif. Meskipun trader dari semua level bisa memanfaatkannya untuk menentukan posisi-posisi yang profitabel, grafiknya bisa jadi cukup kompleks, dan karenanya, lebih baik digunakan oleh trader yang lebih berpengalaman.

illustrasi
 

Kagi Chart

Kagi chart terdiri dari satu set garis-garis vertikal dan horisontal yang bervariasi ketebalannya, menggarisbawahi price action ketimbang bersandar pada variable waktu. Hingga saat ini belum diketahui siapa yang berhubungan dengan pengembangan chart ini; meskipun telah terungkap bahwa Kagi chart berasal dari Jepang dan pertama kali digunakan untuk memantau price action pada harga beras, sekaligus level-level demand dan supply di perekonomian Jepang.
 
Kagi Chart
 

Hal-hal yang perlu diingat

  1. Garis akan berubah arah begitu jumlah reversal tercapai.
  2. Garis akan berubah warna/ketebalannya begitu harga (dari tren yang diikutinya) berada dibawah atau diatas garis sebelumnya.

Pendekatan Sistematis

Mengikuti peraturan Kagi chart bisa jadi tidak sulit. Namun demikian, dibutuhkan konsistensi untuk menggambar garis vertikal dari titik awal ke harga penutupan. Trik-nya adalah dengan memiliki mata yang jeli melihat detail dengan memastikan bahwa Anda memplot garis tren yang belum melewati reversal tren. Kalau tidak, maka Anda tak punya pilihan lain kecuali harus kembali ke langkah awal. Singkatnya, menggunakan grafik ini sangat mirip dengan menggunakan chart garis (line chart); perbedaan utamanya adalah bahwa garis-garis Kagi chart bisa bervariasi ketebalannya dan bergerak ke arah-arah yang berbeda.
Langkah-langkahnya:
1. Tentukan titik awal.
2. Dari titik awal, gambar garis vertikal menuju harga penutupan pertama, memanjang menuju harga penutupan kedua, lalu berlanjut ke harga menutupan ketiga, dan seterusnya.
3. Plot dua garis berdasarkan harga penutupan di hari sebelumnya.
  • Jika harga penutupan lebih besar/sala dengan harga penutupan sebelumnya: (1) plot garis vertikal tebal dan (2) ikuti tren pada garis horizontal yang sedang berlangsung.
  • Jika harga penutupan lebih rendah daripada harga penutupan sebelumnya: (1) plot garis horizontal tipis dan (2) ciptakan sebuah garis vertikal tipis baru. 
sumber: seputarforex.com 
Read more...

Volatilitas, Range, Indikator ATR Dan Stop Loss

0 komentar

Average True Range (ATR) adalah teknikal indikator yang digunakan untuk mengukur volatilitas. Indikator ini sama sekali tidak menunjukkan arah trend atau perubahan arah trend. ATR mengukur derajat volatilitas perubahan harga dari level high ke low atau dari low ke high berdasarkan perubahan besarnya range pada tiap-tiap bar. Biasanya indikator ini digunakan pada time frame daily dimana yang diukur adalah volatilitas harian berdasarkan besarnya range harian.

Range yang sebenarnya atau True Range adalah selisih antara harga tertinggi dan harga terendah yang diukur dalam pip pada suatu periode tertentu. Misal jika periode yang digunakan adalah 14 hari maka Average True Range atau ATR mengukur True Range rata-rata pada periode tersebut dalam satuan pip. Dari perubahan nilai ATR tersebut diperoleh gambaran volatilitas suatu pasangan mata uang tertentu.

Jika nilai ATR naik artinya range harian pasangan mata uang tersebut naik, dan ini menunjukkan volatilitas yang sedang tinggi. Selain itu dengan besarnya range harian yang terukur, secara normal kita bisa memperkirakan sampai sejauh mana harga tertinggi atau terendah suatu pasangan mata uang akan bergerak pada hari itu. Dari nilai ATR yang terukur trader bisa menentukan batas resiko atau level stop loss dengan asumsi batas harga tertinggi atau terendah dalam keadaan normal seperti yang diperkirakan.

Menentukan level stop loss berdasarkan tingkat volatilitas memang logis dan bisa dimengerti. Dengan volatilitas pasar yang sedang tinggi trader tentu tidak akan menentukan stop loss yang ketat, sebaliknya saat volatilitas pasar sedang rendah trader tentu tidak ingin level stop loss yang terlalu lebar. Yang biasa digunakan trader adalah dengan menerapkan stop loss pada 1 kali nilai ATR periode 14 hari, artinya jika pasar bergerak normal trader mengasumsikan range hari itu adalah sebesar range rata-rata 14 hari terakhir.

Dalam hal ini range rata-rata setiap pasangan mata uang berbeda sehingga kita tidak seharusnya menentukan stop loss dengan besar yang sama untuk setiap pasangan mata uang. Sebagai contoh berikut perbandingan 2 pasangan mata uang dengan range harian yang berbeda:





Tampak pada chart daily diatas, pasangan EUR/GBP dengan ATR (14) sebesar 82 pip dan GBP/AUD dengan ATR (14) sebesar 256 pip, yang artinya GBP/AUD lebih volatile dibandingkan EUR/GBP. Sehingga, kita tidak seharusnya menentukan stop loss dengan besaran yang sama, misalnya 100 pip. Jika kita trading pada EUR/GBP, stop loss yang logis adalah sekitar 82 pip, sedang bila kita trading GBP/AUD, maka stop loss yang logis sekitar 256 pip.

Volatilitas GBP/AUD yang tinggi ditunjukkan oleh perubahan nilai ATR (14) beberapa hari sebelumnya yang besarnya hampir setengah dari nilai ATR (14) sekarang, sehingga besaran stop loss kita juga bisa berubah sesuai dengan tingkat volatilitas pada saat kita entry.

Sumber : www.dailyfx.com : Measuring Volatility with Average True Range, by: Jeremy Wagner
seputarforex.com 
Read more...

Teori Dow Pada Pasar Forex

0 komentar
Hampir setiap teori tentang pasar bisa diterapkan dalam pasar forex, dan juga benar secara analisa teknikal. Teori Dow yang dibuat oleh Charles Dow antara tahun 1900 hingga 1902 untuk keperluan analisa rata-rata harga saham di bursa Amerika Serikat, adalah salah satu dan yang pertama kali digunakan untuk menganalisa pasar keuangan termasuk forex. Secara umum investor menggunakan teori Dow untuk mengetahui waktu yang tepat dalam membeli atau menjual asset.

                                                 

Teori Dow adalah sebuah analisa teknikal yang dibuat berdasarkan pergerakan harga saham-saham pada indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) yang terdiri dari saham-saham blue chip di bursa AS. Ada 6 komponen dasar teori Dow yang beberapa diantaranya secara teknikal berguna untuk menganalisa trend pada pasar forex, yakni:
1. Pasar forex mempunyai 3 pola pergerakan swing (ayunan) yang berbeda yaitu ayunan pokok (main swing) jangka panjang, medium swing dan swing jangka pendek (short swing).
2. Pasar mempunyai 3 fase yang terdiri dari fase pembelian awal oleh para pakar investasi, fase pembelian oleh publik ketika kemudian mereka tertarik dan mengikuti langkah para pakar, dan fase penjualan oleh para pakar ketika harga telah mencapai puncaknya untuk merealisasikan keuntungannya (fase profit taking).
3. Semua berita dan rumor telah didiscount oleh pasar seperti yang tercermin pada harga itu sendiri.
4. Antar pasar selalu berhubungan erat, pergerakan satu jenis pasar bisa mempengaruhi pasar yang lain (hubungan intermarket).
5. Kekuatan trend selalu dikonfirmasikan oleh jumlah volume perdagangan (khususnya untuk pasar yang ada bursanya)
6. Trend akan terus bergerak hingga ada sinyal yang mengisyaratkan pergerakan reversal. Pada umumnya jika terjadi penurunan 20% (untuk uptrend) arah trend akan cenderung berbalik (bearish).
Untuk trader forex jangka panjang teori Charles Dow tersebut akan sangat berguna. Sebaliknya bagi trader jangka pendek atau trader harian teori itu kurang bisa diterapkan karena trader akan cenderung bertindak sebelum ada konfirmasi yang valid. Bagi trader jangka panjang memahami fase-fase yang berbeda tersebut akan sangat penting untuk menentukan momentum trade yang tepat, seperti yang pernah dikatakan investor terkemuka Warren Buffet: “pertama-tama akan masuk para innovator, kemudian para imitator (peniru) dan yang terakhir para idiot”.

Bagi trader forex, pemahaman 3 pola pergerakan swing dan 3 fase akan sangat berguna, sementara pasar yang mendiscount berita dan rumor kurang tampak pengaruhnya mengingat hampir sebagian besar porsi pergerakan pasar forex dikendalikan oleh bank sentral yang selalu merilis isu-isu penting ke seluruh media dunia secara on-line. Semuanya tampak transparan, dan bank sentral juga bisa mengatur likuiditas mata uang negaranya.

Sumber : www.ufxmarkets.com : All About the Dow Theory FX
seputarforex.com 
Read more...

Buy The Dip Dan Sell The Rally

0 komentar

Pada umumnya kita akan membeli sebuah barang bila harganya murah dan menjualnya bila harganya telah tinggi. Jika Anda tahu harga barang yang akan Anda beli hari ini besok akan turun, maka Anda tentu akan menunggu hingga besok untuk membelinya. Demikian pula jika Anda tahu harga barang yang akan Anda jual besok akan lebih tinggi, tidak ada salahnya Anda menunggu hingga besok.

Dalam trading, baik di pasar forex, saham, komoditi atau futures, trader selalu berusaha untuk beli pada harga yang diperkirakan paling rendah dan jual pada harga yang diperkirakan paling tinggi. Istilah ini lazim disebut dengan buy the dip, sell the rally. Artikel ini akan membahas cara menentukan momentum atau waktu yang tepat untuk buy pada harga terendah atau sell pada harga tertinggi.

Jika Anda belum tahu akan buy the dip atau sell the rally, berikut 3 tahapan untuk melakukannya:
1. Menentukan arah trend
2. Memilih indikator oscillator
3. Menyaring sinyal sesuai dengan arah trend yang sedang terjadi

Menentukan arah trend
Ketika harga pasar bergerak dalam arah uptrend ataupun downtrend, terdapat titik-titik swing (swing points) yang merupakan titik-titik referensi untuk identifikasi arah trend. Cara yang paling dasar untuk menentukan trend adalah dengan melihat pola yang dibentuk oleh titik-titik swing.

Untuk uptrend titik-titik swing akan membentuk pola higher high atau level high yang lebih tinggi dari level high sebelumnya dan higher low atau level low yang lebih tinggi dari level low sebelumnya. Untuk downtrend titik-titik swing akan membentuk pola lower high atau level high yang lebih rendah dari level high sebelumnya dan lower low atau level low yang lebih rendah dari level low sebelumnya.

Memilih indikator oscillator
Indikator oscillator digunakan untuk mengetahui level overbought (jenuh beli) dan oversold (jenuh jual). Pada level-level tersebut ada kemungkinan harga akan mengalami koreksi. Indikator oscillator yang sering digunakan adalah RSI, MACD dan stochastic. Pilihlah satu diantaranya yang paling cocok atau yang biasa Anda gunakan.

Menyaring sinyal sesuai dengan arah trend yang sedang terjadi
Setelah arah trend diketahui, tentunya Anda akan membuka satu posisi saja (buy atau sell) setelah pergerakan harga mengalami koreksi. Misal ketika uptrend Anda hanya ingin membuka posisi buy pada setiap kali level terendah muncul, dan ketika downtrend Anda hanya sell setiap kali pada level tertingginya. Untuk mengetahui titik-titik buying atau selling Anda bisa menyaring pergerakan harga tersebut dengan indikator oscillator.
Berikut contoh pada pergerakan harga yang sedang uptrend dengan indikator RSI sebagai penyaringnya:

Pada contoh diatas Anda bisa entry buy pada level yang terendah (buy the dip) dengan konfirmasi level-level oversold indikator RSI. Sebaliknya untuk pergerakan harga downtrend, Anda akan entry sell pada level tertinggi (sell the rally) dengan konfirmasi level-level oversold indikator RSI.

Sumber : www.dailyfx.com : 3 Steps to Buy the Dip or Sell the Rally, by: Jeremy Wagner, Head Forex Trading Instructor
seputarforex.com 
Read more...

 
Trading valuta asing berdasarkan margin mengandung potensi keuntungan tinggi, tapi juga potensi risiko tinggi yang mungkin tidak cocok untuk semua investor. Sebelum memutuskan untuk trading valuta asing, Anda harus dengan hati-hati mempertimbangkan tujuan investasi, tingkat pengalaman, dan selera risiko Anda. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan hasil masa depan, yang bisa berbeda karena volatilitas pasar. Ada kemungkinan bahwa Anda bisa saja kehilangan sebagian atau semua investasi awal Anda sehingga sebaiknya jangan menginvestasikan uang yang tidak dapat Anda tanggung kerugiannya. Anda harus menyadari tentang semua risiko yang terkait dengan trading valuta asing, dan meminta nasihat dari penasihat keuangan independen jika Anda memiliki keraguan.
KAJIANFOREX (Pusat Informasi pembelajaran Forex terpercaya) © 2015 | Designed By Blog Minan