Tampilkan postingan dengan label Sistem Trading. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sistem Trading. Tampilkan semua postingan
Selasa, 29 Maret 2016

Pasar Mempunyai Ingatan (1)

0 komentar
Pasar tidak pernah lupa, atau tepatnya mempunyai ingatan. Secara kasat mata Anda bisa melihat level-level support dan resistance yang membuktikan hal ini. Pasar tidak pernah melupakan saat-saat dimulainya pergerakan yang signifikan. Berapa kali Anda mengamati pergerakan harga yang mengalami koreksi dan kembali lagi ke level atau area dimana pergerakan tersebut dimulai?

Kadang harga bergerak ranging di sekitar level tersebut sebelum berlanjut atau berbalik arah. Kejadian ini terus berulang dalam histori pergerakan setiap pasangan mata uang, dan jika Anda mengerti mengapa hal ini terjadi tentu Anda tidak akan mengalami kesulitan lagi dalam mengantisipasi pergerakan harga pasar.

Trading forex adalah mengenai probabilitas, jadi bukan seperti mengukur atau menghitung sesuatu yang pasti dan mutlak. Pasar akan selalu ingat setiap pergerakan signifikan yang dibuatnya. Ini adalah probabilitas yang tinggi tetapi tidak selalu demikian. Meski demikian probabilitas yang tinggi bisa dijadikan sebagai asumsi.

Bukti yang jelas dari probabilitas tinggi tersebut terlihat pada formasi bar (candlestick) atau formasi pergerakan harga (price action) yang terjadi. Price action merupakan sinyal arah pergerakan selanjutnya. Kombinasi antara asumsi dan formasi price action bisa memberikan petunjuk yang jelas mengenai pergerakan harga dan merupakan sinyal trading dengan probabilitas yang tinggi.

Berikut contoh pada chart daily indeks saham DAX30  (Jerman) :

        

Level resistance kunci (key resistance) terbentuk antara 9735.00 hingga 9700.00. Area antara level resistance kunci dan pergerakan harga ke arah bawah yang signifikan dalam kasus ini disebut sebagai ‘event area’. Sinyal trading tidak harus terjadi pada level kunci, tetapi bisa juga pada event area. Seperti pada contoh ini sebuah pin bar reversal tampak terbentuk pada event area yang merupakan sinyal untuk sell.

Setelah 12 hari kembali terbentuk pin bar reversal pada event area dan harga kembali bergerak turun. Hal ini menunjukkan bahwa pasar tidak pernah lupa dan selalu merespek level-level kunci dan juga event area yang terbentuk. Jika trader telah mengerti akan hal ini maka ia akan bisa melakukan antisipasi ketika terbentuk sinyal-sinyal pada level-level kunci maupun event area.

Entry berdasarkan sinyal price action yang terjadi dekat pada level resistance atau support dan event area biasanya lebih aman dan sering kali benar. Ini karena keadaan tersebut dikonfirmasi oleh ingatan pasar.

(Bersambung)

Sumber : www.learntotradethemarket.com : The Market Never Forgets, by: Nial Fuller
Seputarforex.com 
Read more...

Kiat Untuk Masuk Pasar (1)

0 komentar
Pada tulisan yang lalu kita telah membicarakan trading dengan cara seperti seorang penembak jitu dan seperti seekor buaya yang sedang menunggu mangsa. Kita juga tahu apa manfaatnya. Buaya, predator yang keberadaannya di bumi jauh lebih tua dari manusia bisa bertahan hingga sekarang karena ’’metode mencari mangsa’’ yang akurat, sabar dan disiplin. Buaya bisa ’’entry’’ dengan tepat hanya pada jenis mangsa yang berkualitas, bukan mangsa kecil-kecil yang jumlahnya banyak tapi kurang berkualitas. Pendekatan ini bisa kita gunakan pada cara kita entry atau masuk pasar.

Ide dari kiat masuk pasar ini adalah ketika Anda telah melihat sinyal trading dari price action atau trend, Anda tidak harus serta merta masuk pada harga pasar saat itu, melainkan tunggulah hingga terjadi pullback atau retracement. Kondisi retrace selalu akan terjadi akibat tarik menarik antara buyer dan seller. Mungkin banyak trader lainnya yang masuk begitu terjadi sinyal, tetapi sebaiknya Anda memberi kesempatan pasar untuk bernafas sejenak. Apa manfaatnya?

Dengan menunggu pasar menarik nafas, Anda akan tahu lebih jelas kemana sentimen pasar selanjutnya hingga memperoleh harga entry yang tepat, atau Anda akan entry dengan optimal. Dengan harga entry yang optimal Anda bisa mengatur level stop (stop loss) lebih ketat hingga Anda bisa menaikkan angka rasio risk/reward. Artinya Anda bisa trade dengan position size yang lebih besar, dan bukan resikonya yang lebih besar.

Perlu diketahui bahwa fokus utamanya bukan pada level stop yang ketat, tetapi lebih pada harga entry yang ideal. Level stop ketat bisa diterapkan setelah Anda yakin sentimen pasar selanjutnya. Ingat semakin tinggi risk/reward ratio akan semakin memungkinkan Anda untuk memperoleh profit yang lebih besar. Berikut ini contoh entry yang optimal untuk bisa memperoleh risk/reward ratio yang tinggi dengan stop loss yang sempit (ketat).



Pada chart XAU/USD diatas tampak terbentuknya pin bar rejection pada level support kunci. Setelah retrace pada bar berikutnya, level entry yang dianggap ideal adalah sedikit diatas support kunci pada level 1272.75 atau sekitar 50% dari range pin bar. Dengan menunggu retracement bar berikutnya maka level reward (profit) bisa mencapai 4 kali resiko, atau risk/reward ratio 1:4. Biasanya mungkin level entry Anda akan disekitar level tertinggi pin bar karena buru-buru masuk, dengan level resiko pada level terendah pin bar. Dalam hal ini reward Anda hanya sekitar 2.5 R hingga maksimal 3R saja.

(Bersambung)

Sumber : www.learntotradethemarket.com :  The Ultimate Forex Trade Entry ‘Trick’ You Need To Master
Seputarforex.com
Read more...

Distribusi Acak: Kenyataan Dalam Trading Forex

0 komentar
Suatu kenyataan penting dalam trading forex adalah kita tidak bisa mengharapkan hasil yang pasti dari setiap trade yang kita lakukan. Ini sering tidak disadari trader. Meski terasa agak janggal tetapi begitulah kenyataannya. Meski Anda menggunakan strategi trading dengan angka persentasi profit atau win rate tertentu tetapi Anda tetap saja tidak bisa memastikan apakah hasil trade Anda bakal profit atau loss.


                                       


Misalkan Anda menggunakan sebuah sistem trading dengan win rate 60%, apakah Anda tahu trade mana yang bakal profit dan mana yang bakal loss? Atau  kolom-kolom mana saja dalam statement trading Anda yang mewakili 60% profit dan 40% kerugian Anda? Anda tidak akan tahu, dan tidak akan pernah tahu. Hal ini disebabkan karena dalam trading terjadi distribusi acak (random distribution) antara trade yang profit (winning trades) dan trade yang loss (losing trades), tidak peduli apapun strategi atau sistem trading yang Anda gunakan.

Banyak trader yang tahu akan hal ini, namun kenyataannya banyak pula yang trading dengan mengabaikan kenyataan tersebut dengan memastikan sebuah trade akan profit atau loss. Penyebaran pergerakan harga yang didistribusikan secara acak (istilah dalam ilmu statistik) dalam hal ini berarti Anda tidak akan pernah tahu kapan stop loss kita akan kena atau kapan target profit kita bakal tercapai, meski Anda menggunakan sistem trading "A" yang mempunyai win rate tinggi. Jadi hasil akhir trading Anda terdistribusikan secara acak. Namun jika Anda selalu menggunakan sistem trading "A", maka seharusnya hasil akhir trading Anda secara kumulatif akan profit.

Kuncinya adalah "selalu menggunakan". Dan ini biasanya sulit dipatuhi trader. Mereka cenderung tidak disiplin dan tidak sabar untuk selalu menggunakan sistem trading yang telah disepakati sekalipun mereka tahu win rate-nya tinggi. Di dalam sistem trading tersebut tentu telah diterapkan strategi money management yang hasilnya bisa diketahui setelah sekian kali trade. Berikut contoh sebuah kurva equity dengan distribusi hasil trading yang acak:


               


Pada gambar tersebut tampak bahwa kurva equity tersebut selalu naik, yang berarti sistem trading yang digunakan cukup efektif dan profitable setelah digunakan dalam suatu periode waktu.

Hal penting yang seharusnya diketahui mengenai kenyataan ini adalah Anda mesti menerima kenyataan tersebut, dan tidak mengambil resiko melebihi dari yang sanggup Anda tanggung pada setiap trade yang Anda lakukan. Trader yang berani resiko melebihi dari yang seharusnya adalah mereka yang seolah tahu akan memperoleh profit pada suatu trade tertentu. Hal inilah yang sering kali menimbulkan masalah.

Sebaliknya jika Anda trading berdasarkan kenyataan bahwa pergerakan harga pasar didistribusikan secara acak dan Anda tidak pernah tahu sebuah trade akan berakhir win atau lose, Anda tentu akan sangat peduli dengan potensi resiko yang bakal terjadi, dan Anda akan menentukan perbandingan risk/reward dengan proporsional dengan tidak hanya fokus pada target atau reward yang mungkin Anda peroleh.

Setelah beberapa kali rugi, sering kali Anda menghindar masuk pasar karena takut mengalami kerugian kembali, meski Anda melihat sinyal pada sistem trading Anda. Sebaliknya Anda mengharap sinyal yang lebih pasti atau lebih akurat. Sebenarnya hal ini tidak tepat Anda lakukan. Anda seharusnya mengharapkan hasil trading pada jangka panjang, bukan pada setiap trade yang sebenarnya tidak bisa Anda ketahui dengan pasti hasil akhirnya. Seperti pada keterangan sebelumnya, Anda seharusnya disiplin dengan selalu menggunakan sistem trading yang telah teruji untuk suatu periode waktu tertentu.

Contoh distribusi acak dalam kenyataan
Pada contoh-contoh berikut ini ditunjukkan bahwa meski sinyal trading sudah benar atau valid tetapi tetap saja ada kemungkinan meleset, atau tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Contoh-contoh ini menunjukkan distribusi acak yang terjadi pada pergerakan harga di pasar forex.

Sinyal valid yang dihasilkan bukanlah yang pasti benar, tetapi yang kemungkinannya paling besar. Kita tidak pernah akan tahu apakah akan profit atau loss sekalipun posisi yang kita buka sesuai dengan sinyal trading yang probabilitasnya tinggi. Pada contoh-contoh berikut kita menggunakan setup price action sebagai sinyal trading.





Gambar diatas menunjukkan 3 setup price action yang berbeda. Pin bar (1) yang berekor panjang tampak cukup valid dan berada dekat level support. Meski tidak searah dengan trend utama namun probabilitasnya cukup tinggi dan jelas. Namun demikian jika kita entry sesuai aturan umum maka kemungkinan besar akan loss. Setelah naik melebihi level tertinggi pin bar, harga kembali turun hingga sama dengan level terendah pin bar (1), sebelum membentuk pin bar (2). Jadi kita tidak bisa memastikan bahwa sinyal yang valid akan selalu profitable.

Validitas pin bar (2) sama dengan pin bar (1), berekor panjang dan dekat dengan level support. Setelah retrace hingga mendekati level 50% pin bar, harga naik hingga menyentuh resistance. Jika kita entry sesuai aturan umum yakni buy diatas level 50% pin bar maka kita akan memperoleh profit. Tidak ada alasan khusus kenapa pin bar yang ini profitable kecuali setup pin bar yang seperti ini probabilitasnya cukup tinggi.

Demikian pula dengan setup fakey (false) pin bar (3) yang mengalami penolakan (rejection) pada level resistance. Jika kita entry ketika harga menembus level terendah pinbar dengan target sekitar level support maka kita akan bisa profit.

Dari 3 sinyal yang terjadi, 2 sinyal profitable dan yang satu tidak sesuai dengan perkiraan. Jadi karena pergerakan harga pasar didistribusikan secara acak maka kita tidak akan pernah tahu dengan pasti trade mana yang profitable dan mana yang tidak.





Pada contoh diatas tampak pin bar (1) yang terjadi pada kondisi pasar downtrend dan mengalami rejection pada level support. Sebagian trader menganggap pin bar ini kurang valid sebagai sinyal buy mengingat trend utama saat itu cenderung bearish. Namun ternyata pin bar (1) tersebut profitable, sedang pin bar (2) yang juga cukup valid untuk entry sell ternyata tidak profitable.

Dengan adanya kenyataan bahwa pergerakan harga di pasar forex didistribusikan secara acak maka kita tidak bisa mengharapkan untuk selalu profit dalam setiap trade sekalipun sinyal trading cukup valid atau telah sesuai dengan syarat-syarat yang kita tetapkan. Kita bisa menentukan persentasi profit untuk jangka panjang setelah beberapa kali trade, tetapi tidak untuk setiap trade yang kita lakukan. Yang penting kita perhatikan adalah management resiko yang proporsional dan sistem trading yang kita terapkan dengan disiplin.


Sumber :
www.learntotradethemarket.com
Seputarforex.com 
Read more...

Trading Dengan False Breakout

0 komentar
Breakout adalah penembusan harga pada suatu level tertentu yang dianggap penting, bisa level resistance, support atau level psikologis angka bulat. Jika pergerakan harga gagal menembus level tersebut maka dikatakan breakout yang salah atau false breakout. Menurut teori, support atau resistance adalah level penting yang seharusnya ditembus (break) atau tidak ditembus (bounching). Dengan acuan ini maka trader seharusnya entry sell ketika harga sudah melampaui level support atau buy jika harga lewat level resistance.

Namun dalam perkembangannya, kenyataan di pasar sering kali berbeda. Harga bisa break sesaat untuk segera berbalik arah lagi (bounching) atau terjadi false breakout. Trader yang memanfaatkan momen ini untuk entry bisa disebut contrarian trader, dan cara yang digunakan dinamakan contrarian trading. Trading dengan false breakout adalah salah satu cara dalam contrarian trading.

Contrarian trading bisa dilakukan misalya dengan mencari peluang entry buy pada saat pergerakan harga turun atau peluang sell saat harga dianggap telah overvalued atau terlalu mahal, tentu saja setelah disesuaikan dengan kemungkinan terjadinya pembalikan arah trend (trend reversal) melalui konfirmasi indikator teknikal atau formasi price action yang terbentuk.

Jika kebetulan Anda gemar menggunakan strategi breakout mungkin pernah mengalami ketika Anda telah entry dibawah level support atau diatas resistance saat harga menembus, tiba-tiba pergerakan harga berbalik arah. Ada beberapa sebab mengapa pasar gagal breakout, yang tampak jelas adalah menurunnya momentum sesaat setelah harga berhasil break. Pada level-level penting ini terjadi pertarungan antar pemain besar, yaitu bank sentral, institusi keuangan dan para big boys.

Jika bank sentral tidak ingin harga lewat level tertentu maka akan segera melipat gandakan ukuran lot (position size), dan jika para big boys merasa kurang mendapat dukungan, atau merasa tidak cukup kuat melawan bank sentral, maka mereka akan ikut arus, entry pada arah reversal. Oleh karena itu pada level-level penting tersebut pergerakan harga akan meluncur dengan cepat dan tajam karena momentum yang sangat kuat, baik ketika break maupun saat berbalik arah (false breakout).

Sebagai contoh, berikut false breakout pada trend bullish yang pernah terjadi pada pergerakan harga GBP/USD daily. Pada awal Nopember 2007 GBP/USD berhasil tembus level 2.1050, 50 pip diatas level psikologis 2.1. Perlu diketahui Pound belum pernah mencapai angka 2 per US dollar-nya sejak Maret 1993. Setelah formasi bar candlestick membentuk engulfing bearish, selanjutnya Pound-dollar merosot hingga ke level 1.5 setahun kemudian (Nopember 2008), 6000 pip dari level false breakout. Perhatikan sentimen pasar di hari-hari selanjutnya yang cenderung bearish.





Contoh lain pada pasangan mata uang populer EUR/USD. Pada chart weekly berikut tampak terjadi beberapa false breakout pada trend bullish maupun bearish, di level-level angka bulat.





Perhatikan semakin kuat level resistance atau support maka semakin kuat pula pergerakan arah reversal yang terjadi setelahnya.

Dalam pasar forex false breakout lebih sering terjadi mengingat pada umumnya kondisi pasar yang benar-benar trending hanya sekitar 20% hingga 30% dari seluruh pergerakan harga. Oleh karenanya strategi ini cukup populer dalam trading forex.
Breakout dan false breakout pada kondisi sideways

Kondisi false breakout sering kali terjadi pada pasar yang sideways (ranging), seperti pada contoh berikut:





Disini terlihat 4 kali false breakout, 2 kali pada level resistance dan 2 kali pada level support. Trader yang terbiasa dengan analisa price action tentu bisa mengantisipasi dengan formasi bar yang terbentuk, pin bar, inside bar ataupun doji. Dengan pengamatan setup price action dan konfirmasi indikator teknikal akan bisa diketahui apakah kondisi breakout tersebut telah sempurna atau belum.

Agar aman, contrarian trader akan cenderung menggunakan limit order pada area yang dekat dengan level resistance atau support, yaitu limit sell pada area 2 dan 4, dan limit buy pada area 1 dan 3. Sedang trader yang agresif akan memanfaatkan terjadinya kondisi breakout yang sempurna dengan stop order, yaitu stop buy pada area 2 atau 4, dan stop sell pada area 1 atau 3. Seperti tampak pada contoh diatas, breakout yang sempurna terjadi setelah 4 kali false.

Namun demikian pending order seperti itu belum tentu aman, dan lebih bersifat untung-untungan karena kita tidak tahu pasti alur perilaku harga (order flow) pada level-level order yang kita tempatkan. Untuk lebih obyektif kita mesti mengetahui perilaku pergerakan harga keseluruhan dengan mengacu pada time frame yang lebih tinggi untuk mengetahui trend yang dominan pada saat ini. Jika dominan uptrend maka keadaan sideways akan cenderung breakout pada resistance, dan sebaliknya jika yang dominan downtrend.

Berikutnya kita lihat formasi bar candlestick dan setup price action di sekitar level resistance dan support. Pada contoh diatas, pada area 1 tampak inside bar diikuti oleh doji, menunjukkan konsolidasi pasar yang kuat. Selain itu juga terjadi rejection pada level support. Kita bisa entry buy ketika level tertinggi mother bar telah terlewati. Pada area 2 tampak pin bar dan inside bar serta rejection pada resistance. Hal ini menunjukkan pasar yang sedang konsolidasi setelah harga menguji level resistance. Entry sell bisa dilakukan ketika level terendah mother bar telah ditembus, demikian pula pada area 4.


False breakout pada level psikologis

Contoh lain adalah false breakout yang sering terjadi pada level psikologis, seperti berikut ini:







False breakout
terjadi 2 kali pada level psikologis 1.6000. Pertama saat swing low, dengan terbentuknya inside bar, dan kedua saat terbentuk formasi bullish engulfing.

Dalam trading dengan false breakout hendaknya kita tidak terburu-buru untuk entry. Tunggu hingga arah sentimen pasar jelas.


Sumber :
www.forex-fx-4x.com - Contrarian Trading Approaches - Fading The Breakout
Seputarforex.com 
Read more...

Trading Dengan Pivot Point

0 komentar
Di awal saya belajar trading, permasalahan support-resistant terus terang menjadi salah satu hal yang bikin saya penasaran. Bukan apa-apa sih, asalnya sih cuma pengen tau ajah… Soalnya seringkali ada temen trader yang bilang gini,"Kalo harga bisa tembus sekian, dia bakalan terus naik" atau "Kalo dia break sekian, bakalan terus turun tuh" atau "Ahh… paling-paling dia ntar mental di sekian”

Nah tuh, pikir saya, gimana cara dia menentukan angka "sekian"-nya itu yah? Jangan-jangan cuma main sok yakin aja ni orang. Maklumlah setelah sekian lama berhubungan dengan temen-temen trader (yang gak semuanya punya maksud baik), saya jadi punya bawaan curiga mulu kalo ada trader yang dengan yakin menyebutkan prediksi hasil analisisnya.
analisa trader - ilustrasi
Yah, akhirnya dengan modal tanya sana sini dan googling sana sini, saya jadi paham bahwa sebagian besar trader menggunakan pivot point sebagai pedoman menentukan support-resistant. Iya sih… memang ada juga temen trader yang lebih mengandalkan Fibonacci retracement sebagai patokan yang berfungsi sebagaimana pivot point, dan terus terang belakangan saya juga ikutan jatuh cinta pada Fibonacci ini. Tapi setidaknya, pivot point memberikan perhitungan matematis yang bisa dikatakan lebih obyektif dibanding dengan indikator lainnya. Saya tidak akan menjabarkan bagaimana menghitung pivot point dan support-resistant di sini.

Toh anda akan dengan mudah mendapatkan hasil perhitungan pivot dari berbagai web yang menyediakan pivot calculator. Atau, kalo anda memang hobi yang ruwet-ruwet, silahkan googling aja untuk mendapatkan rumus perhitungan pivot point ini. Yang terpenting menurut saya adalah bagaimana memanfaatkan informasi yang didapat dari seretan angka pivot, R1,R2, R3, S1, S2 dan S3 tersebut.

Ok, Pivot point serta nilai support-resistant sebenarnya secara umum menggambarkan bagaimana pergerakan harga sebuah pair bergerak dalam rentang nilai tertentu. Pergerakan harga ini bisa diibaratkan pita elastis yang meregang dan pada akhirnya, cepat atau lambat akan rebound dan kembali ke posisi keseimbangan.

Nah, pivot point ini membantu kita untuk mengetahui, seberapa jauh peregangan ini akan terjadi. Secara psikologis, traders secara umum juga memiliki batas psikologis tentang tingkat harga yang dianggap tinggi dan tingkat harga yang dianggap rendah. Batasan-batasan psikologis yang "disepakati" inilah level-level support-resistant tersebut.

Ok, sekarang masalahnya adalah bagaimana dasar cara trading dengan pivot point? Pedoman secara umumnya sih, kalau anda sudah mengetahui batas-batas kapan harga akan rebound, anda akan bisa menentukan kapan anda sebaiknya masuk ataupun keluar market. Kalau kita sudah bisa mengetahui titik-titik support-resistant ini, maka kita bisa tahu, kapan sebaiknya melakukan buy, kapan sebaiknya sell dan kapan sebaiknya take profit.

Saya sendiri biasa memasang TP beberapa pips di bawah resistant (untuk posisi buy) atau beberapa pips di atas support (untuk posisi sell) sebagai TP. Apabila dilihat trend masih kuat, terkadang saya akan memasang pending order buy beberapa pips di atas resistant atau pending order sell beberapa pips di bawah support.

Dengan kata lain, nilai-nilai pivot, support dan resistant bisa dijadikan pedoman dalam menentukan TP (keluar market). Nah, kalaupun anda sudah mempunyai indicator andalan, gak ada salahnya anda menggabungkan sinyal dari indicator tersebut dengan patokan dari perhitungan pivot point ini. Setidaknya anda akan memperoleh gambaran yang lebih lengkap dalam memahami perilaku pergerakan sebuah pair.



Sumber: Seputarforex.com 
Read more...

 
Trading valuta asing berdasarkan margin mengandung potensi keuntungan tinggi, tapi juga potensi risiko tinggi yang mungkin tidak cocok untuk semua investor. Sebelum memutuskan untuk trading valuta asing, Anda harus dengan hati-hati mempertimbangkan tujuan investasi, tingkat pengalaman, dan selera risiko Anda. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan hasil masa depan, yang bisa berbeda karena volatilitas pasar. Ada kemungkinan bahwa Anda bisa saja kehilangan sebagian atau semua investasi awal Anda sehingga sebaiknya jangan menginvestasikan uang yang tidak dapat Anda tanggung kerugiannya. Anda harus menyadari tentang semua risiko yang terkait dengan trading valuta asing, dan meminta nasihat dari penasihat keuangan independen jika Anda memiliki keraguan.
KAJIANFOREX (Pusat Informasi pembelajaran Forex terpercaya) © 2015 | Designed By Blog Minan