Averaging diambil saat kita yakin bahwa perubahan harga yang berlawanan dengan yang posisi yang dimiliki akan kembali berbalik sesuai prediksi semula dengan mengambil posisi baru yang searah
Contoh Kasus:
Mr. X memprediksi bahwa harga akan naik maka dia membuka posisi Buy.
Tidak lama kemudia harga bergerak naik, dan Mr. X pun melanjutkan analisanya dan menyimpulkan bahwa harga naik lebih jauh lagi.
Dia memutuskan .....
Membuka Posisi Buy Baru lagi sehingga posisi harga buy yang dimiliki Mr. X sekarang merupakan rata-rata dari posisi buy I dan posisi buy II
Setelah beberapa saat dan melakukan analisa yang matang, kemudian Mr. X menutup kedua posisi nya tersebut sehingga pada akhirnya Mr. X pun mendapatkan profit
Tidak lama kemudia harga bergerak naik, dan Mr. X pun melanjutkan analisanya dan menyimpulkan bahwa harga naik lebih jauh lagi.
Dia memutuskan .....
Membuka Posisi Buy Baru lagi sehingga posisi harga buy yang dimiliki Mr. X sekarang merupakan rata-rata dari posisi buy I dan posisi buy II
Setelah beberapa saat dan melakukan analisa yang matang, kemudian Mr. X menutup kedua posisi nya tersebut sehingga pada akhirnya Mr. X pun mendapatkan profit
Gambar 1 Tampilan Ilustrasi Averaging
DETAIL KASUS:
Tuan A membuka posisi Buy GBP/USD pada 1,8850 dengan jumlah 1 lot. Tuan A memprediksi bahwa tak lama lagi dia bisa melikuidasi posisinya tersebut pada 1.8900. Oleh karena itu dia membuat Risk Manajemen untuk posisinya: Stop Loss di 1,8800 dan Stop Limit pada 1.8900.
Ternyata harga terkoreksi dan bergerak turun hingga 1.8825.
Tuan A kembali membuka posisi Buy GBP/USD pada 1,8825 dengan jumlah 1 lot. Dia juga memasang Stop Loss di 1,8800 dan Stop Limit pada 1.8900.
Lalu tak lama kemudian harga kembali terkoreksi dan menyentuh 1,8900. Dengan demikian Tuan A mendapatkan 2 keuntungan dari 2 posisi yang telah dibuka : Diketahui bahwa Pip Value saat itu sebesar Rp 9200 dan komisi per lot sebesar Rp 50.000.
Posisi I :
Profit / Loss = Jumlah Lot x {((Posisi Close - Posisi Open) x Pip Value) - Biaya Komisi Per Lot}
Profit/Loss = 1 x {((1,8900 - 1.8850) x 9200) - 50000}
Profit = 1 x { Rp 460.000 - Rp 50.000}
Profit Posisi I = Rp 410.000,-
Posisi II :
Profit / Loss = Jumlah Lot x {((Posisi Close - Posisi Open) x Pip Value) - Biaya Komisi Per Lot}
Profit/Loss = 1 x {((1,8900 - 1.8825) x 9200) - 50000}
Profit = 1 x { Rp 690.000 - Rp 50.000}
Profit Posisi II = Rp 640.000,-
Jumlah Profit untuk kedua posisi : Rp 410.000 + Rp 640.000 = Rp 1.050.000,-
Tuan A membuka posisi Buy GBP/USD pada 1,8850 dengan jumlah 1 lot. Tuan A memprediksi bahwa tak lama lagi dia bisa melikuidasi posisinya tersebut pada 1.8900. Oleh karena itu dia membuat Risk Manajemen untuk posisinya: Stop Loss di 1,8800 dan Stop Limit pada 1.8900.
Ternyata harga terkoreksi dan bergerak turun hingga 1.8825.
Tuan A kembali membuka posisi Buy GBP/USD pada 1,8825 dengan jumlah 1 lot. Dia juga memasang Stop Loss di 1,8800 dan Stop Limit pada 1.8900.
Lalu tak lama kemudian harga kembali terkoreksi dan menyentuh 1,8900. Dengan demikian Tuan A mendapatkan 2 keuntungan dari 2 posisi yang telah dibuka : Diketahui bahwa Pip Value saat itu sebesar Rp 9200 dan komisi per lot sebesar Rp 50.000.
Posisi I :
Profit / Loss = Jumlah Lot x {((Posisi Close - Posisi Open) x Pip Value) - Biaya Komisi Per Lot}
Profit/Loss = 1 x {((1,8900 - 1.8850) x 9200) - 50000}
Profit = 1 x { Rp 460.000 - Rp 50.000}
Profit Posisi I = Rp 410.000,-
Posisi II :
Profit / Loss = Jumlah Lot x {((Posisi Close - Posisi Open) x Pip Value) - Biaya Komisi Per Lot}
Profit/Loss = 1 x {((1,8900 - 1.8825) x 9200) - 50000}
Profit = 1 x { Rp 690.000 - Rp 50.000}
Profit Posisi II = Rp 640.000,-
Jumlah Profit untuk kedua posisi : Rp 410.000 + Rp 640.000 = Rp 1.050.000,-
Sumber: belajarforex






