Seiring dengan makin parahnya depresiasi Rupiah akhir-akhir ini,
sejumlah pihak mengklaim bahwa depresiasi Rupiah merupakan salah satu
penyebab mengapa PHK merajalela. Benarkah demikian? Apa hubungannya
antara Rupiah yang ambruk di level terendah dalam 17 tahun dengan pemutusan hubungan kerja? Artikel ini akan mengungkap latar belakang teoritis yang mengindikasikan relasi tersebut.
Depresiasi Rupiah Vs Biaya Produksi
Kemerosotan nilai tukar suatu mata uang acap pula disebut dengan
istilah 'depresiasi'. Ketika suatu mata uang mengalami depresiasi, maka
hal itu pertama-tama akan berdampak pada ekspor dan impor. Ketika Rupiah
terdepresiasi, misalnya, harga barang-barang impor meningkat karena
nilai mata uang kita dibanding Dolar AS dan berbagai mata uang asing
lainnya melorot. Jadi, pengguna barang impor harus membayar uang lebih
besar untuk barang yang dibelinya. Padahal, sebagian dari barang yang diimpor Indonesia adalah barang modal, termasuk bahan baku, mesin pertanian, dan mesin-mesin untuk produksi manufaktur.
Dalam sebuah ulasan di situs Kementrian Perindustrian awal tahun ini
disebutkan bahwa total impor barang modal pada tahun 2014 mencapai
sekitar USD 34.22 miliar. Bahkan menurut Ketua Gabungan Industri
Pengerjaan Logam dan Mesin Indonesia (Gamma) dalam ulasan yang sama,
produksi lokal hanya menyumbang 10-15 persen saja dari kebutuhan barang
modal. Ketergantungan pada mesin impor tersebut adalah akibat dari
kapasitas produksi barang modal domestik yang belum bisa memenuhi
permintaan dalam negeri.
Dalam kondisi seperti ini, dapat diproyeksikan bahwa depresiasi Rupiah akan meningkatkan biaya produksi perusahaan dan mempersulit ekspansi.
Terkait dengan mesin-mesin saja, misalnya, perusahaan yang akan
memperbarui peralatan produksinya jadi harus mengeluarkan biaya lebih
besar, apalagi untuk melakukan ekspansi seperti meningkatkan skala
produksi, mendirikan pabrik baru, atau membuka lowongan.
Gaji Karyawan = Biaya Tenaga Kerja
Di sisi lain, perusahaan juga harus membayar biaya produksi lainnya, seperti bunga pinjaman (dimana sekarang bunga bank sedang tinggi-tingginya dengan BI rate pada 7.5 persen)
dan upah karyawan. Patut diingat kembali pelajaran ekonomi jaman SMP
kita bahwa faktor produksi pokok ada empat, yakni Tanah (SDA), SDM,
Modal, dan Kewirausahaan, disamping juga beberapa faktor lain seperti
teknologi. Ketika biaya yang harus ditanggung perusahaan untuk
berproduksi naik, maka alternatif yang bisa dilakukan setidaknya ada
dua: menaikkan harga barang yang dihasilkan (output) atau mengurangi
biaya produksi dari unsur faktor produksi yang lain.
Harga output bisa dinaikkan jika harga barang setelah kenaikan itu
pun bisa diterima oleh konsumen di pasar dan permintaan akan barang itu
tetap tinggi. Dalam kondisi normal, kenaikan harga barang di masyarakat
toh biasanya ditoleransi. Namun sayangnya, di tahun 2015 ini Dunia tengah dilanda penurunan permintaan.
Stagnasi dan perlambatan ekonomi di Jepang, China, dan Zona Euro
(semuanya partner dagang utama Indonesia) telah mengakibatkan penurunan
permintaan dari luar negeri. Sementara itu, permintaan domestik pun
sedang tertekan karena harga berbagai jenis barang dan jasa meningkat.
Pemilik perusahaan tentunya tidak ingin mengurangi labanya sendiri,
sedangkan harga tanah (jika menyewa) tentunya terus meningkat juga.
Dalam hal ini, satu-satunya yang bisa dipangkas adalah biaya tenaga kerja.
Artinya, perusahaan bisa jadi akan berhenti menaikkan gaji atau
mengurangi bonus, atau malah memecat karyawan jika beban biaya produksi
dinilai sudah terlalu tinggi sedangkan harga output tidak bisa dinaikkan
lagi. Sementara rencana-rencana ekspansi perlu ditunda hingga kondisi
ekonomi membaik, dan pembukaan lowongan kerja baru pun akan berkurang.
Ekspor-Impor
Ada yang mengatakan bahwa depresiasi Rupiah akan menguntungkan neraca
dagang karena ekspor akan meningkat dan impor berkurang, sehingga
industri domestik bisa berkembang. Namun, itu tidak berlaku bagi Indonesia saat ini.
Salah satu sebabnya telah disebutkan tadi: permintaan dunia tengah
merosot. Ketika permintaan memang merosot, maka bagaimana ekspor bisa
meningkat? Apalagi harga-harga berbagai komoditas ekspor anjlok,
sehingga pendapatan dari ekspor pun tentunya menurun. Sedangkan bagian
dari impor Indonesia yang berupa barang modal, jika berkurang justru
malah buruk bagi industri yang mengandalkan barang modal impor tadi.
Situasi ini bisa dilihat dari data-data neraca perdagangan yang
dirilis oleh Badan Pusat Statistik. Sejak Desember 2014 hingga data
terakhir bulan Juli 2015, neraca dagang selalu surplus. Namun demikian,
ekspor menunjukkan tren menurun; tercatat sebesar 14,621.3 juta Dolar
pada Desember 2014, tetapi hanya mencapai 11,408.5 pada bulan Juli 2015.
Impor pun demikian. Pada Desember 2014 tercatat impor 14,434.5 juta
Dolar, sedangkan bulan Juli 2015 hanya 10.076.5 juta Dolar. Tengoklah
data-data tersebut dalam grafik garis, maka Anda akan melihat bahwa
angka-angka ekspor dan impor itu merepresentasikan rekor terendah sejak
tahun 2011.
Data Ekspor (Atas) Dan Impor (Bawah) Indonesia Agustus 2014-Juli 2015
Proyeksi
Dalam jangka panjang, jika situasi ini terus menerus berlanjut tanpa
solusi, maka bukan tidak mungkin mengarah pada resesi. Surplus neraca
dagang pun pada suatu titik akan surut jika ekspor makin menipis.
Sedangkan dari dalam negeri secara teoritis dapat diproyeksikan: makin
banyak karyawan di-PHK, maka makin rendahlah daya beli masyarakat;
ketika permintaan masyarakat makin susut, demikian pula perusahaan akan
makin kesulitan untuk menjalankan maupun mengembangkan bisnisnya,
sehingga makin banyak orang akan kehilangan pekerjaan. Ini berpotensi
jadi lingkaran setan.
Tentu saja, kesulitan yang dialami oleh dunia bisnis sekarang,
berikut juga maraknya PHK, tidak hanya dikarenakan oleh depresiasi
Rupiah saja. Banyak faktor yang ikut andil dan mempengaruhi perekonomian
suatu negara. Untuk keluar dari situasi ini pun, semestinya banyak
solusi yang bisa ditempuh.
Dari sisi pemerintah, penggiatan program pembangunan infrastruktur
bisa menjadi salah satu opsi. Pembangunan infrastruktur secara luas
selain bisa menyerap tenaga kerja juga bisa menopang permintaan domestik
untuk sementara (dalam jangka pendek). Dari sisi masyarakat,
upaya-upaya untuk menggiatkan usaha kecil menengah berbasis kearifan
lokal atau berbasis teknologi (dotcom) bisa diberdayakan untuk
meningkatkan aktivitas bisnis setempat dan menyerap tenaga kerja yang
telah dipecat. Selain kedua alternatif itu, mungkin masih banyak solusi
lain yang bisa dieksplor. Yang jelas, situasi saat ini tidak boleh
didiamkan begitu saja.
Sumber: Seputarforex.com






