Semua trader tentunya penasaran, apa yang membuat investor-investor
kawakan dan perusahaan-perusahaan investasi besar selalu profit.
Rupanya, ini karena mereka mengikuti suatu aturan tertentu dalam
bertrading di pasar forex maupun pasar aset finansial lainnya. Aturan
ini dipaparkan oleh Boris Schlossberg, partner Kathy Lien di BK Asset Management, dalam newsletter pekanannya baru-baru ini.
Schlossberg mengawali newsletter-nya dengan merangkum isi salah satu
kolom investasi berjudul "How to Make Volatility Your B****" yang
ditulis oleh Josh Brown (CEO Ritholtz Wealth Management New York,
komentator CNBC, serta kolumnis langganan di Yahoo! Finance dan Business Insider) dalam blog-nya thereformedbroker.com. Di dalam kolom tersebut, Brown menjelaskan langkah demi langkah strategi dollar-cost averaging dalam trading saham, mendemonstrasikan mengapa itu adalah strategi investasi terbaik yang pernah diciptakan.
Dollar-Cost Averaging (DCA)
DCA adalah strategi membeli aset investasi tertentu dalam besaran
dolar yang tetap secara rutin, tak peduli berapa harga aset atau saham
tersebut. Karena besaran dolar yang digunakan untuk membeli itu tetap,
maka akan ada lebih banyak saham yang dibeli saat harganya murah, dan
lebih sedikit saham dibeli saat harganya tinggi.
Umpamanya, Anda memutuskan untuk membeli saham XYZ setiap bulan
sejumlah $100. Pada bulan Januari, saham XYZ berharga $33, sehingga Anda
beli tiga saham. Di Februari, harganya $25, jadi Anda beli lagi empat
saham. Pada maret, harganya $20, sehingga Anda beli lima saham. Secara
keseluruhan, Anda membeli 12 saham dengan harga rata-rata masing-masing
$25.
Strategi ini banyak direkomendasikan oleh para penasihat keuangan di
Barat dan luas dipraktekkan oleh banyak investor. Ide pokoknya adalah:
Sebagian dari modal Anda akan mendapatkan return ganda masif karena Anda
melakukan aksi beli aset-aset saat harganya masih murah, tetapi
sebagian dari modal Anda hanya akan mendapatkan return rata-rata, dan
sebagian lainnya dari modal yang Anda miliki mungkin akan mengalami
return negatif karena dibeli saat pasar reli. Namun demikian, secara
keseluruhan, nilai dari perolehan Anda hampir pasti akan naik terus
dalam jangka waktu 10 tahun.
Strategi ini hanya akan gagal apabila harga saham-saham perlahan
bergerak ke nol dalam waktu 10 tahun, yang mana itu tentunya tidak
mungkin terjadi, kecuali terjadi financial crash yang luar biasa. Namun
selama indeks saham masih bergerak keatas, maka investor akan selalu
sukses menggunakan strategi DCA.
Hukum Bilangan Besar
Menurut Schlossberg, kesuksesan strategi DCA bersandar pada dua faktor: pergerakan naik natural pasar saham dan "hukum bilangan besar" (law of large numbers).
Hukum bilangan besar secara sederhana menyatakan bahwa hasil akan
hampir selalu memenuhi ekspektasi, asalkan kita punya sampel yang cukup.
Umpamanya, jika Anda membalik sekeping uang logam tiga kali secara
berurutan, maka ada kemungkinan Anda akan mendapatkan ketiganya di sisi
tanda gambar, atau ketiganya di sisi angka. Faktanya, probabilitas itu
terjadi adalah 12%.
Intinya, lebih baik untuk mengambil risiko investasi dalam jumlah kecil-kecil, daripada secara gelondongan.
Bagi-bagi risiko dalam beberapa bagian kecil (pisahkan modal Anda
menjadi beberapa porsi), dan ambil banyak sampel risiko (buka banyak
posisi trading), sehingga dari waktu ke waktu Anda bisa menjadi lebih
kaya dari sekarang. Tentu saja, ini dengan mengasumsikan bahwa risiko
tersebut memang layak Anda ambil. Inilah pentingnya kontrol risiko.
Ukuran Kecil Saja
Schlossberg berpendapat bahwa alasan utama mengapa banyak orang
kehilangan habis modalnya di pasar adalah karena mereka tidak menghargai
"law of large numbers" tersebut. Konsep dasar dibalik aturan itu adalah: Anda perlu bertrading dalam ukuran kecil-kecil. Anda
perlu melakukan banyak trading dalam ukuran kecil-kecil untuk
memastikan kesuksesan jangka panjang Anda, karena Anda harus mampu
bertahan ketika terjadi serangkaian loss yang pastinya tidak
terhindarkan.
Jadi, ketika seorang trader berupaya meningkatkan performanya, hal
pertama yang harus dilakukan adalah membuat trader bertrading dalam
ukuran kecil-kecil. Tak peduli sistem trading apa yang digunakan trader,
menurut Schlossberg, mengurangi ukuran aset yang ditradingkan memiliki
pengaruh instan dan dramatis. Trader tidak lagi panik, dan mampu
mengeksekusi strategi secara lebih efektif.
Strategi sukses itu akan lebih ampuh lagi bila bisa mengkombinasikan law of large numbers dengan algoritma trading yang bagus. Faktanya, ini sudah diaplikasikan oleh perusahaan-perusahaan investasi yang mempraktekkan High-Frequency Trading (HFT)
seperti Virtu, yang men-trading-kan jutaan saham setiap harinya, tetapi
per-trading hanya mentransaksikan 100 saham. Mereka tidak pernah
mengalami satu hari yang loss sama sekali dalam bertahun-tahun, meskipun
tak semua transaksi yang dilakukannya berakhir profit.
Sebagai trader individual, kita tidak perlu meniru persis cara-cara
perusahaan investasi HFT, tetapi kita perlu "mengiris-iris" risiko jadi
kecil-kecil, sebagaimana yang mereka lakukan. Bisa jadi, pokok masalah
yang menyebabkan performa trading kita buruk bukanlah pada strategi,
tetapi pada ukuran lot yang kita tradingkan.
------------
Diadaptasi dengan penyesuaian dari Boris Schlossberg Weekly Trading Newsletter (27 Februari 2016)
Sumber: Seputarforex.com






