Seperti yang Anda ketahui USD adalah mata
uang yang digunakan di seluruh dunia. Namun keberadaannya semakin lama
tidak membaik, nilainya turun nilai dari tahun ke tahun. Tahu tidak apa
penyebabnya? Dan kenapa emas sampai sekarang malah naik sangat tinggi?
Apakah gara-gara diborong oleh orang-orang berduit? Dan jika benar
kenapa mereka lebih suka memilih emas ketimbang uang USD?
USD diconvert oleh EmasSebelumnya kita kaji dahulu mengenai cerita dan asal usulnya tentang keberadaan emas dan USD ini. Pada awal perang dunia I dan perang dunia II yaitu pada tahun 1939 sampai 1945 Amerika sebagai negara pemenang perang. Dimana ia mampu meluluhlantakkan 2 kota besar Jepang dengan bom atomnya.
Sejak kemenangan tersebut, negara-negara diseluruh dunia mengakui Amerika sebagai Super Power dan negara adikuasa. Akibatnya Amerika ditakuti baik dari segi militer hingga perekonomiannya. Setelah perang usai, perekonomian dunia juga kena imbas dari peperangan tersebut. Pada bulan Juli 1944 dibentuklah sistem yang disebut BrettonWoods Agrement. Isinya "Setiap mencetak dollar AS yang digunakan untuk transaksi di seluruh dunia harus dijamin dengan emas". Sehingga memegang 1 dollar sama dengan 35 ons emas. Itu dulu, saat USD masih jaya.
USD Melepas EmasNamun karena adanya perang melawan Vietnam dan pengeluaran anggaran yang sangat besar yaitu melawan musuhnya Uni Soviet. Amerika akhirnya tak mampu meng-convert lagi ke dalam emas. Karena perekonomian dalam negeri mengalami pemerosotan, pemerintah akhirnya mengeluarkan uang kertas tanpa dukungan emas lagi guna menyokong perekonomian supaya tetap tumbuh. Hal itu ditandai dengan dicabutnya sistem bretton oleh presiden Richart Nixon pada tanggal 15 Agustus 1971.
Sejak saat itu USD dicetak terus menerus tanpa sokongan dari emas lagi. Artinya masyarakat dunia yang memegang uang USD adalah uang kertas saja tanpa kekuatan emas. Seperti balon yang dilepas dari ikatannya – harga emas terus membubung tinggi. Bila pada tahun-tahun sebelum ikatan tersebut dilepas harga emas dunia berada pada kisaran US$ 35/Oz; pada tahun 1971 ketika ikatan dilepas, harga emas mulai merangkak ke angka US$ 40/Oz – kini harga itu telah mencapai US$ 1200-an/Oz atau dalam US$ naik 30 kali dan dalam rupiah naik 700 kali selama kurun waktu 40 tahun saja.

Ketika Emas dibiarkan tanpa ikatan ke mata uang, dipastikan gap antara mata uang dengan emas semakin jauh. Sebelum mata uang kembali kepada emas, maka kenaikan emas akan terus terjadi sampai kapanpun.
Namun kabar baiknya bank sentral dunia atau BIZ diam-diam mulai memperkuat alat tukarnya dengan emas. Negara Cina dan negara-negara lainnya sudah mempersiapkan dirinya membeli barang-barang riil diluar mata uang USD seperti emas, perak, bijih besi, dan kayu. Jika suatu saat US dollar sudah tidak ada nilainya lagi, maka barang-barang seperti emas akan semakin laris manis dipasaran.
KesimpulanAlat transaksi mata uang US Dollar merupakan alat tukar universal. Namun keberadaannya yang tidak disokong oleh emas lagi membuat nilai uang dollar semakin turun dari tahun ke tahun. Sebelum adanya perubahan sistem ekonomi dunia, emas, dan barang-barang lainnya akan semakin membumbung tinggi nilainya.
USD diconvert oleh EmasSebelumnya kita kaji dahulu mengenai cerita dan asal usulnya tentang keberadaan emas dan USD ini. Pada awal perang dunia I dan perang dunia II yaitu pada tahun 1939 sampai 1945 Amerika sebagai negara pemenang perang. Dimana ia mampu meluluhlantakkan 2 kota besar Jepang dengan bom atomnya.
Sejak kemenangan tersebut, negara-negara diseluruh dunia mengakui Amerika sebagai Super Power dan negara adikuasa. Akibatnya Amerika ditakuti baik dari segi militer hingga perekonomiannya. Setelah perang usai, perekonomian dunia juga kena imbas dari peperangan tersebut. Pada bulan Juli 1944 dibentuklah sistem yang disebut BrettonWoods Agrement. Isinya "Setiap mencetak dollar AS yang digunakan untuk transaksi di seluruh dunia harus dijamin dengan emas". Sehingga memegang 1 dollar sama dengan 35 ons emas. Itu dulu, saat USD masih jaya.
USD Melepas EmasNamun karena adanya perang melawan Vietnam dan pengeluaran anggaran yang sangat besar yaitu melawan musuhnya Uni Soviet. Amerika akhirnya tak mampu meng-convert lagi ke dalam emas. Karena perekonomian dalam negeri mengalami pemerosotan, pemerintah akhirnya mengeluarkan uang kertas tanpa dukungan emas lagi guna menyokong perekonomian supaya tetap tumbuh. Hal itu ditandai dengan dicabutnya sistem bretton oleh presiden Richart Nixon pada tanggal 15 Agustus 1971.
Sejak saat itu USD dicetak terus menerus tanpa sokongan dari emas lagi. Artinya masyarakat dunia yang memegang uang USD adalah uang kertas saja tanpa kekuatan emas. Seperti balon yang dilepas dari ikatannya – harga emas terus membubung tinggi. Bila pada tahun-tahun sebelum ikatan tersebut dilepas harga emas dunia berada pada kisaran US$ 35/Oz; pada tahun 1971 ketika ikatan dilepas, harga emas mulai merangkak ke angka US$ 40/Oz – kini harga itu telah mencapai US$ 1200-an/Oz atau dalam US$ naik 30 kali dan dalam rupiah naik 700 kali selama kurun waktu 40 tahun saja.
Ketika Emas dibiarkan tanpa ikatan ke mata uang, dipastikan gap antara mata uang dengan emas semakin jauh. Sebelum mata uang kembali kepada emas, maka kenaikan emas akan terus terjadi sampai kapanpun.
Namun kabar baiknya bank sentral dunia atau BIZ diam-diam mulai memperkuat alat tukarnya dengan emas. Negara Cina dan negara-negara lainnya sudah mempersiapkan dirinya membeli barang-barang riil diluar mata uang USD seperti emas, perak, bijih besi, dan kayu. Jika suatu saat US dollar sudah tidak ada nilainya lagi, maka barang-barang seperti emas akan semakin laris manis dipasaran.
KesimpulanAlat transaksi mata uang US Dollar merupakan alat tukar universal. Namun keberadaannya yang tidak disokong oleh emas lagi membuat nilai uang dollar semakin turun dari tahun ke tahun. Sebelum adanya perubahan sistem ekonomi dunia, emas, dan barang-barang lainnya akan semakin membumbung tinggi nilainya.
Sumber:
dinarislam.com
bulanpurnamagold.com
emas24.com
Seputarforex.com






