Volatilitas harga minyak merupakan salah satu hal kritis bagi
investor, karena peran minyak sebagai sumber energi terpenting saat ini
bagi semua negara di dunia. Secara fundamental, pergerakan harga
komoditas ditentukan oleh suplai dan demand akan komoditas itu sendiri.
Dalam konteks harga komoditas minyak, maka beberapa faktor penting yang
perlu diperhatikan antara lain adalah sebagai berikut:
1. OPEC
Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC)
merupakan kartel minyak yang didirikan di Baghdad, Irak, pada tahun
1960 dan kini berkantor pusat di Wina, Austria. Per 2014, anggota OPEC
terdiri atas: Aljazair, Angola, Ekuador, Iran, Irak, Kuwait, Libya,
Nigeria, Qatar, Arab Saudi, Uni Emirat Arab dan Venezuela.
OPEC memegang posisi penting sebagai kartel yang berperan
mempengaruhi sisi suplai dalam perdagangan minyak dunia. Meski produksi
minyak negara-negara OPEC meliputi kurang dari 50% total produksi minyak
dunia, tetapi posisi bersatu mereka sebagai kartel memperkuat kedudukan
secara kolektif dibanding negara-negara produsen minyak non-OPEC yang
bertindak secara terpisah.
Hasilnya, rapat-rapat OPEC dan komentar-komentar yang dikeluarkan
oleh para petingginya menjadi faktor yang bisa memicu perubahan harga
minyak. Perubahan kapasitas produksi setiap negara, berikut konflik
geopolitik yang kadang-kadang menerpa, menjadi faktor-faktor yang
bermain dalam pembentukan tren harga minyak dunia.
2. Situasi Negara-Negara Produsen Minyak
Berdasarkan uraian di poin pertama, jelas bahwa sebagian besar minyak
dunia bukan diproduksi oleh OPEC, melainkan negara-negara non-OPEC.
Sepuluh produsen minyak terbesar dunia per estimasi tahun 2014
berturut-turut adalah:
- Rusia,
- Arab Saudi,
- Amerika Serikat,
- China,
- Kanada,
- Irak,
- Iran,
- Meksiko,
- Venezuela,
- Uni Emirat Arab.
Jelas bisa dilihat bahwa dari 10 besar, hanya lima yang menjadi
anggota OPEC dan hanya empat yang berlokasi di Timur Tengah. Pun,
produsen minyak terbesar Rusia dan peringkat ketiga Amerika Serikat,
bukanlah bagian dari kedua kelompok tersebut. Karenanya, perlu dipahami
bahwa "situasi negara-negara produsen minyak dunia" tidak hanya
meliputi situasi negara-negara OPEC atau negara-negara Timur Tengah saja. Pada tahun 2014 lalu, misalnya, harga minyak sempat goncang setelah konflik antara Rusia dan Ukraina pecah.
Namun demikian, 62% persediaan minyak Dunia ada di Timur Tengah dan
berpusat di lima negara: Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Irak, dan
Kuwait. Tidak semua negara tersebut berproduksi secara maksimal, karena
maraknya konflik dan sanksi ekonomi. Dari sini dapat disimpulkan bahwa
perbaikan kondisi politik dan keamanan di Timur Tengah memiliki
kemampuan besar untuk meningkatkan suplai minyak dan mendorong harga
minyak turun; sedangkan meningkatnya ketegangan bisa membuat pasar
kuatir suplai berkurang sehingga mendorong harga minyak naik.
3. Perusahaan Minyak
Dalam perdagangan yang sudah terglobalisasi, maka perdagangan suatu
komoditas tidak hanya bergantung pada komoditas itu, melainkan juga perusahaan yang berperan dalam produksi dan distribusinya. Salah satu langkah perusahaan minyak yang jelas berpengaruh pada harga minyak dunia adalah yang terkait dengan simpanan (inventory) dan pemboran (oil drilling).
Saat ini, suplai minyak dunia adalah sekitar 1-2 juta barel lebih
besar dibanding permintaannya. Nah, karena tidak terserap oleh konsumsi,
maka kelebihan itu harus disimpan di suatu tempat. Alokasi minyak ke
penyimpanan ini akrab disebut dengan istilah inventory. Kelebihan minyak
akan disimpan di inventory sebagai persiapan ketika suatu saat kelak
produksi menurun, atau permintaan meningkat. Masalahnya, tempat yang
tersedia terbatas. Karena itu, maka semakin tinggi jumlah inventory,
semakin besar pula kemungkinan harga minyak dunia akan jatuh gara-gara
minyak yang tak muat di inventory jadi melimpah ke pasar.
Strategi yang diterapkan perusahaan minyak dalam produksi juga akan
berpengaruh besar pada tren harga minyak dunia. Ambil contoh penggunaan teknik fracking
untuk mengeksplorasi minyak shale di AS dan praktek "fracklog"
("menyimpan minyak" di lokasi eksplorasi) yang berpotensi melemahkan
harga minyak dunia akibat melimpahnya produksi dan inventory.
Tak kalah berpengaruh juga adalah kondisi perusahaan-perusahaan di
dalam industri itu sendiri. Katakanlah terjadi kebangkrutan massal
akibat harga minyak dunia kelewat murah, maka itu secara otomatis akan
memangkas suplai dan membuat harga meningkat.
4. Permintaan Minyak Global
Sebagai salah satu jenis komoditas yang diperdagangkan di tingkat internasional, harga minyak dunia juga dipengaruhi oleh kuat-lemahnya permintaan (demand).
Tetapi bagaimana mengukur permintaan global? Adakah yang menyediakan
data tersebut? Mengukur secara pasti dan menghasilkan angka-angka
tertentu jelas tidak memungkinkan. Meski begitu, para analis bisa
membuat estimasi berdasarkan beberapa faktor yang membentuk permintaan
minyak dunia.
Diantara faktor-faktor tersebut ada tingkat industrialisasi,
pertumbuhan ekonomi dunia, penjualan kendaraan bermotor, dan lain-lain.
Tak berlebihan jika dikatakan bahwa penggunaan minyak sebagai sumber
energi utama dunia didorong oleh industrialisasi. Semakin banyak
industri di suatu negara, semakin besar pula sumber energi yang
dibutuhkannya. Dalam konteks yang sama, pertumbuhan ekonomi juga akan
mendorong meningkatnya permintaan minyak. Sebaliknya, apabila ekonomi
dunia melambat, maka permintaan minyak akan turun, seperti yang telah
terjadi pada paruh kedua tahun 2014.
Ini bisa dipahami dengan mudah melalui satu contoh: penjualan
kendaraan bermotor. Setelah industrialisasi terjadi dan ketika
pertumbuhan ekonomi bagus, penjualan kendaraan bermotor tentunya akan
terus meningkat. Padahal penggunaan kendaraan bermotor saat ini sebagian
besar masih membutuhkan bahan bakar minyak. Jika hal ini terjadi, maka
tentunya harga minyak dunia akan naik bersama dengan peningkatan
permintaan.
5. Perkembangan Teknologi dan Penemuan Baru
Penemuan-penemuan baru terkait eksplorasi minyak, seperti
pengembangan metode fracking untuk mendapatkan minyak Shale akan
cenderung menurunkan harga minyak. Begitu pula penemuan lokasi cadangan
minyak baru serta perluasan eksplorasi minyak oleh perusahaan-perusahaan
minyak multinasional. Ini karena penemuan-penemuan baru semacam ini
membuka peluang untuk meningkatnya suplai minyak di masa depan.
Dalam hal ini, pengembangan teknologi baru yang memungkinkan biaya
eksplorasi, biaya produksi, dan biaya distribusi lebih murah, juga akan
membuat harga minyak dunia jadi lebih rendah. Ini khususnya bila
praktek-praktek tersebut tersebar luas diaplikasikan oleh
perusahaan-perusahaan minyak.
Termasuk dalam kategori ini juga, penelitian-penelitian biofuel dan
bahan-bahan lain yang berpotensi menjadi substitusi minyak bumi sebagai
sumber energi utama Dunia akan mendorong harga minyak makin rendah
karena permintaan minyak masa depan diproyeksikan berkurang.
Secara umum, harga minyak dunia sebagai komoditas ditentukan oleh
permintaan dan penawaran. Faktor-faktor yang mempengaruhi kedua hal itu
akan mempengaruhi harga minyak dunia, baik dalam jangka pendek maupun
jangka panjang. Meski faktor-faktor tersebut tidak bisa diukur dengan
mudah karena pasar yang jelas global dan banyaknya ketidakpastian,
tetapi estimasi bisa dilakukan dengan mengobservasi perkembangan
terkini. Selain itu, perlu dicatat juga bahwa pasar yang seperti itu
rentan spekulan dan permainan harga.
Sumber: Seputarforex.com






