Gara-gara harga minyak kelewat rendah, banyak perusahaan minyak
gulung tikar. Namun, kesempatan itu justru diambil oleh banyak
perusahaan raksasa di sektor ini untuk ekspansi dengan "memakan"
perusahaan minyak lain yang lebih kecil. Perusahaan-perusahaan minyak
multinasional ini pun menjadi makin mendominasi pasar minyak global.
Siapa saja mereka? Perusahaan peralatan penggalian asal AS, Rig Source
Inc, bulan lalu menerbitkan data 10 perusahaan minyak terbesar di Dunia
berdasarkan total pendapatannya pada tahun 2014.
1. China Petroleum and Chemical Corp (Sinopec)
Dengan total revenue sebesar 455.06 miliar USD, Sinopec berhasil
merebut gelar sebagai perusahaan minyak terbesar dunia. BUMN China ini
menggarap sektor perminyakan di negeri tersebut dan berspesialisasi pada
produk olahan hilir. Namun demikian, total produksinya hanya 1.6 juta
barel per hari; memang besar, tetapi jauh lebih rendah ketimbang
perusahaan minyak kawakan lain di daftar ini.
2. China National Petroleum Corp (CNPC)
Kursi "runner up" juga diambil oleh BUMN asal China, yaitu CNPC,
dengan revenue 432 miliar USD. Pendapatannya lebih kecil dibanding
Sinopec, tetapi hasil produksinya tiga kali lipat lebih besar, yaitu 4.4
juta bpd. Bukan yang terbesar dibanding korporasi lainnya, tetapi jelas
jumlahnya signifikan. Awal tahun ini, beredar rumor bahwa CNPC akan
merger dengan PetroChina, anak perusahaan Sinopec, tetapi keduanya
menampik isu tersebut.
3. Royal Dutch Shell
Perusahaan kolaborasi Inggris-Belanda yang lebih akrab disebut dengan
Shell ini termasuk salah satu perusahaan minyak tertua dunia, didirikan
pada tahun 1907 dan telah mengakuisisi banyak perusahaan minyak lain
sepanjang sejarahnya. Ia juga sudah eksis di Indonesia sejak 100 tahun
yang lalu dan menguasai sejumlah titik eksplorasi minyak vital dunia,
termasuk di Teluk Meksiko. Pada 2014, Shell meraup 422 miliar USD.
Sayangnya, tahun ini banyak berita buruk muncul, diantaranya kegagalan
eksplorasi Arktik dan mengecewakannya hasil produksi shale di Kanada dan
AS. Kini, ia dilansir tengah berusaha menggeser fokus ke LNG (liquid
natural gas).
4. ExxonMobil
Selain berstatus sebagai perusahaan minyak terbesar keempat Dunia,
ExxonMobil juga merupakan perusahaan paling blue chip di muka bumi.
Perusahaan minyak asal Texas, AS, yang didirikan oleh Raja Minyak John
D. Rockefeller ini mereguk 394 miliar USD revenue pada tahun 2014 dan
memproduksi 5.3 juta bpd. Saat ini, ExxonMobil beroperasi di semua benua
kecuali Antartika, dengan aset di hulu, menengah, dan hilir, dalam
minyak sekaligus gas alam.
5. Saudi Aramco
Meski "cuma" menduduki kursi nomor lima, BUMN milik Kerajaan Saudi
Arabia ini bisa disebut sebagai perusahaan minyak paling penting di
Dunia karena kuatnya hegemoni negeri ini di OPEC. Perusahaan tersebut
dulunya merupakan joint-venture antara Saudi Arabia dan perusahaan
Aramco asal AS, tetapi pemerintah Saudi mengambil alih semuanya pasca
perang Yom Kippur tahun 1973. Total aset Saudi Aramco berdasarkan data
terakhir mencapai 30 triliun USD, jauh lebih besar dibanding perusahaan
minyak manapun di planet ini, meskipun revenue-nya tahun 2014 hanya
mencapai 378 miliar USD.
6. BP, plc
Perusahaan multinasional Inggris ini dulunya dikenal dengan nama
British Petroleum, sebelum berubah menjadi BP, plc pada tahun 2001.
Berawal dari perusahaan yang dibangun seabad lalu untuk menambang minyak
Iran, BP terus berkembang dari tahun ke tahun hingga operasionalnya
merambah kurang lebih 80 negara. Sialnya, ledakan dan tumpahan minyak
dalam insiden Deepwater Horizon pada tahun 2010 memukul BP, dan sejak
saat itu dominasinya berkurang. Pada 2014, ia hanya sanggup mendapatkan
358.7 miliar USD revenue meskipun berhasil memproduksi 4.1 juta bpd.
7. Total S.A
Nama perusahaan ini mungkin tidak asing lagi di telinga rakyat
Indonesia, mengingat Total telah menjadi operator blok Mahakam sejak
tahun 1968. Selain di Indonesia, raksasa asal Perancis ini juga memiliki
basis operasi di lebih dari 100 negara lainnya. Tahun lalu, Total
meraup pendapatan sebesar 260 miliar USD dan memproduksi 2.7 juta bpd.
8. Kuwait Petroleum Corp
Bersama dengan Saudi Aramco, Kuwait Petroleum Corp juga menjadi
tulang punggung OPEC. Uniknya, perusahaan nasional Kuwait ini adalah
satu-satunya perusahaan dalam daftar ini yang tidak pernah mengakuisisi
perusahaan lain. Meski demikian, ia meraih revenue yang hanya selisih
sedikit dengan Total, yaitu sebesar 252 miliar USD, dari produksi 3.2
juta bpd.
9. Chevron Corp
Berkebalikan dengan Kuwait Petroleum Corp, Chevron yang merupakan
korporasi asal Kalifornia, AS, ini berhasil berkembang terutama dengan
mencaplok perusahaan-perusahaan lain, terutama Gulf Oil (1984), Texaco
(2000), dan Unocal (2005). Kini ia berspesialisasi pada produksi minyak
lepas pantai, dan baru-baru ini juga meluaskan lingkup operasi ke LNG.
Pendapatannya pada 2014 mencapai 192 miliar USD dengan output 3.5 juta
bpd.
10. Lukoil
Berbasis di Rusia, Lukoil merupakan satu dari segelintir perusahaan
minyak swasta di negeri Tirai Besi. Ia juga hobi akuisisi, dan berkat
itu kini berhasil menduduki posisi perusahaan minyak terbesar kesepuluh
sejagat. Ia memiliki banyak aset terkait minyak di Rusia, tetapi
disamping itu banyak dari produksinya berasal dari Basra di Irak
selatan. Tahun lalu Lukoil meraih 144 miliar USD revenue dan memproduksi
2.2 juta bpd.
Kesepuluh perusahaan minyak terbesar dunia ini bisa dikatakan sebagai
"too big to fail" di sektor migas. Pemain pasar komoditas pun
memperhatikan tingkah polah mereka, karena seiring dengan semakin
rampingnya industri minyak global akibat banyaknya kebangkrutan
sepanjang tahhun 2015, maka apabila ada salah satu diantaranya mengalami
goncangan, gema-nya bisa menerpa harga minyak juga. Pun,
langkah-langkah seperti penghentian proyek di titik eksplorasi tertentu,
pemotongan belanja investasi, PHK, dan penutupan sumur minyak tertentu
yang dilakukan mereka, akan turut menentukan masa depan harga dan supply
komoditas minyak bumi.
Sumber: Seputarforex.com






