Sebagaimana gosip negatif mudah menyebar, di era sosial media kini,
volatilitas pun bisa makin viral. Insiden kritis di Asia yang belum
terkonfirmasi bisa dengan cepat menyebar ke Barat dan berdampak pada
naik-turun harga di pasar. Inilah cara sosial media seperti Twitter
mengacaukan harga komoditas.
Ledakan Di Saudi: Iran Tahu Bagaimana Mengacaukan Pasar
Pada Maret 2012, media Iran Press TV melaporkan ada ledakan di pipa
minyak jalur penting kota Awamiyah yang berada di provinsi sebelah timur
Saudi Arabia. Berita itu bertepatan dengan momen Arab Spring
(kebangkitan dunia Arab) dimana Muammar Qaddafi terbunuh di Libya dan
Mesir juga sedang bergolak. Di provinsi sebelah timur Saudi pun saat itu
ada sejumlah demonstrasi kecil-kecilan. Latar yang seperti itu membuat
berita Press TV memicu kenaikan harga minyak hingga lebih dari 5 USD per
barel, atau sekitar 4 persen, ke level tertinggi dalam empat tahunnya
di harga 128 USD.
Berikut ini 'kicauan' dari akun Twitter media ekonomi terkemuka Financial Times pada kejadian tersebut:
Harga minyak langsung balik ke rata-rata mingguan segera setelah
pejabat Saudi membantah berita tersebut. Perlu dicatat juga disini bahwa
walau rumor itu sempat viral di Twitter, tetapi sejatinya hanya Press
TV yang memberitakannya.
Lebih jauh lagi, media juga punya pengetahuan real-time tentang kapan
lembaga apa akan merilis laporan apa, dan ketika ekspektasi tidak
terpenuhi maka reaksinya langsung besar di sosial media. Contoh nyata
sudah terjadi saat laporan OPEC terlambat dirilis pada Mei 2015 lalu.
Bagi komoditas dengan volatilitas tinggi seperti minyak, ini berarti sosial media turut menyumbang peningkatan volatilitas jangka pendek. Apalagi karena sebagian besar produsen minyak berada di lokasi-lokasi rentan konflik. Apa yang bisa dilakukan pelaku pasar dalam situasi seperti ini?
Laporan Instan (Tidak) Menuntut Reaksi Instan
Bagi trader institusional maupun ritel yang ingin selalu 'update' berita, sosmed menjadi wahana yang banyak dicermati. Namun dengan semakin banyak data tersedia secara online dan real time, pasar dan trader bisa jadi juga makin rentan untuk bereaksi berlebihan terhadap suatu kabar.
Akibatnya, berita-berita yang mungkin cuma percikan kembang api pun
bisa direspon seakan ada ledakan. Data yang tersebar real-time via
Twitter mengakibatkan reaksi instan, dan tidak memberi kesempatan untuk
menimbang keputusan investasi yang lebih matang.
Di satu sisi, ini positif karena semua orang bisa mendapatkan akses
yang setara ke berita-berita penting. Tidak cuma pejabat dan trader
institusional yang bisa dapat berita, tetapi juga trader kecil-kecilan
yang tak punya akses 'orang dalam'. Tetapi di sisi lain, cepatnya berita
menjadi viral membuat sebagian muatannya jadi luput dari perhatian.
Akibatnya, seringkali orang bereaksi tanpa mengecek lebih dahulu apakah
berita itu tepat atau hoax, dan tanpa menelaah keseluruhan isi berita
itu.
Padahal, tren harga jangka panjang biasanya mengabaikan volatilitas sesaat.
Segera setelah masa viral di media berakhir, harga pun seringkali
kembali ke level sebelumnya. Fluktuasi harga bisa kelihatan ekstrim dan
kadangkala mengakibatkan kepanikan, tetapi semua itu bisa jadi cuma
temporer.
Bagi trader dan investor yang bermain di pasar komoditas, ada baiknya
mengacuhkan saja info-info viral. Cukup mawas dan fokus ke tren jangka
panjang. Karakteristik pasar komoditas adalah peran tren jangka
panjang-nya, berbeda dengan pasar forex misalnya dimana tren jangka
pendek memiliki andil dalam pembentukan keseimbangan harga. Volatilitas
jangka pendek harga komoditas bisa tenang dan bisa liar, tetapi yang terpenting adalah melihat kerangka besar dalam tren jangka panjang.
Sumber: Seputarforex.com






